14 Des – Zef 3:1-2.9-13; Mat 21:28-32

0
16

“Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?"

(Zef 3:1-2.9-13; Mat 21:28-32)

 

"Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya." (Mat 21:28-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yohanes dari Salib, imam dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Jujur, apa adanya atau transparan itulah suatu keutamaan yang sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan masa kini, mengingat dan memperhatikan kebohongan dan sandiwara kehidupan atau korupsi masih marak di sana-sini Dalam kisah warta gembira hari ini antara lain diceriterakan perihal dua anak: pertama  mengatakan ya tetapi tidak melaksanakan sedangkan anak kedua dengan jujur mengatakan tidak bisa. Anak kedua inilah yang menerima pujian dan pembenaran dari Yesus. “Jujur pasti hancur”, demikian rumor yang sering beredar. Memang benar hidup dan bertindak jujur akan hancur untuk sementara tetapi akan mujur selama-lamanya. Hidup dan bertindak jujur berarti menghayati iman pada Yang Tersalib, siap sedia dan rela menderita sementara demi kebahagiaan atau keselamatan selama-lamanya. Maka dengan ini kami mengajak anda semua untuk mawas diri: sejauh mana buah perjalanan iman sampai kini berbuahkan kejujuran? “Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur – Balai Pustaka , Jakarta 1997, hal 17). Kami berharap kepada para penegak hukum seperti hakim, jaksa, polisi serta pakar hukum dst.. sungguh dengan jujur melaksanakan tugas pengutusan atau kewajibannya sehari-hari. Secara khusus juga kami ingatkan kepada para orangtua atau bapak-ibu untuk sedini mungkin mendidik anak-anaknya hidup dan jujur bertindak jujur kapanpun dan dimanapun.

·   Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN” (Zef 3:12). Semoga kita termasuk orang “yang rendah hati dan lemah, …mencari perlindungan pada nama Tuhan” dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Ingatlah dan hayati bahwa kita berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan, bahwa kita dapat hidup seperti saat ini hanya karena kemurahan dan kasih Tuhan yang telah kita terima melalui orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita. Entah berapa orang yang telah berbuat baik kepada kita, kiranya tak satu orangpun di antara kita mampu menghitung atau mengingat kembali semua kebaikan yang telah kita terima. Maka selayaknya kita hidup dan bertindak dengan rendah hati, tidak sombong dan tidak angkuh. Dia yang kita tunggu-tunggu kedatanganNya sungguh rendah hati, dan hanya dalam kerendahan hati kita akan mampu melihat, menikmati dan mengimani kedatanganNya. “Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof  Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur – Balai Pustaka, Jakarta 1997, hal 24). Kami harapkan semakin berpengalaman, semakin tua/tambah umur, semakin kaya akan harta benda atau uang, semakin pandai/cerdas, semakin tinggi fungsi atau jabatan dalam hidup bersama dst.. hendaknya semakin rendah hati. Jika tidak rendah hati berarti tidak beriman, tidak percaya pada Tuhan, pada penyelenggaraanNya. Tuhan berkarya dimana saja dan kapan saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu, maka baiklah sebagai umat beriman kita senantiasa mengusahakan perlindungan pada nama Tuhan.

 

“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.”

 (Mzm 34:2-3.6-7)

  Jakarta, 14 Desember 2010         

     

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here