13 Mei – Kis 9:1-20; Yoh 6:52-59

“Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.”

(Kis 9:1-20; Yoh 6:52-59)

 

Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan." Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya." Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat.” (Yoh 6:52-59), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Karena tidak beriman kepada Yesus sebagai Utusan Allah, Penyelamat dunia, maka orang-orang Yahudi semakin ragu-ragu ketika Yesus berkata bahwa Dialah Roti dari sorga, maka siapapun yang percaya kepadaNya akan menikmati hidup kekal setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Kiranya mereka semakin ragu ketika Yesus berkata: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman“. Kami berharap kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus untuk tidak ragu dan bimbang terhadap sabda Yesus ini, melainkan marilah dengan rendah hati kita imani dan hayati  sabdaNya dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Kita yang telah menerima komuni kudus, Tubuh Kristus, memperoleh tugas pengutusan sebagaimana Yesus diutus datang ke dunia untuk menyelamatkan dunia seisinya. Maka baiklah saya mengajak dan mengingatkan kita semua yang beriman kepadaNya untuk senantiasa ‘tinggal di dalam Dia’ , bersama dan bersatu dalam dan dengan Tuhan dimanapun dan kapanpun. Salah satu tugas pengutusan kita antara lain membantu saudara-saudari kita yang ragu-ragu perihal imannya alias kurang percaya kepada Tuhan, Penyelenggaraan Ilahi. Kita ajak mereka yang dengan rendah hati mengakui dan menghayati bahwa Tuhan senantiasa menyertai perjalanan hidup dan tugas pengutusan mereka sampai akhir zaman.. Kita ajak mereka untuk tetap hidup bergairah, ceria dan dinamis, karena RohNya hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini.

·   "Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus."(Kis 9:17), demikian kata Ananias kepada Saulus yang buta. Kebutaan Saulus terjadi sebagai peringatan atau tegoran Tuhan, sebagai wahana pertobatan. Kita semua yang beriman kepada Tuhan Yesus dipanggil untuk membantu mereka yang buta, tentu saja lebih-lebih dan terutama mereka yang buta secara social atau spiritual. Kami juga mengingatkan mereka yang sering membenci umat beragama atau beriman dengan aneka cara untuk menyadari kebutaan anda secara social atau spiritual. Kepada kita semua yang terpanggil untuk membantu saudara-saudari kita yang mengalami kebutaan, kami harapkan tidak takut atau tidak gentar mendekati mereka yang harus kita tolong, sebagaimana dilakukan oleh Ananias. Kita lihat, sapa dan perlakukan mereka sebagai saudara, maka hendaknya pertama-tama dan terutama lebih melihat apa yang sama di antara kita, dan untuk sementara mengesampingkan aneka perbedaan yang ada. Percayalah bahwa masing-masing dari kita berkehendak baik, dan mungkin karena ketidak-tahuan atau keterbatasan sering terjadi kekacauan atau permusuhan. Kami mengajak dan mengingatkan kita semua: ketika sedang mengalami musibah atau kegagalan, marilah hal ini kita hayati sebagai peringatan Tuhan bagi kita untuk berubah atau bertobat, memperbaharui diri. Dalam keadaan demikian hendaknya dengan hati terbuka dan siap-sedia untuk dituntun atau dibimbing menuju ke pembaharuan atau pertobatan, semakin beriman, semakin menghayati pendampingan dan penyertaan Tuhan dalam hidup dan kerja kita sehari-hari.

 

“Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!” (Mzm 117)

 

Jakarta, 13 Mei 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: