13 Mar – Hos 6:1-6; Luk 18:9-14

“Barangsiapa meninggikan diri ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri ia akan ditinggikan”(Hos 6:1-6; Luk 18:9-14)

 

“Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:"Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 18:9-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kerendahan hati adalah keutamaan dasar atau utama, kebalikan dari kesombongan. “Rendah hati adalah sikap dan perilkau yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Dalam kisah Warta Gembira hari ini ditampilkan orang Farisi, yang sombong, yang melecehkan atau merendahkan pemungut cukai. Mungkin kita juga sering sombong dengan melecehkan atau merendahkan orang lain, antara lain dalam bentuk ngrumpi/ngrasani atau mengeluh, marah. Pada umumnya orang ngrumpi atau ngrasani membicarakan kelemahan atau kekurangan orang lain dan merasa dirinya lebih baik, sedangkan orang mengeluh berarti melecehkan yang lain juga, apalagi marah. Marilah kita dengan rendah hati menyadari dan menghayati diri sebagai yang lemah dan berdosa, dan menghayati doa ini :”Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Ingatlah dan sadari serta hayati bahwa semakin tambah usia pada umumnya kita juga bertambah dosa dan kekurangan kita. Maka hendaknya semakin tua atau tambah usia, semakin banyak pengalaman, juga semakin rendah hati. “Tua-tua keladi, makin tua dan berisi makin menunduk, sedangkan yang tak berisi menengadah ke atas”. Maka semakin tua semakin sombong berarti tidak beriman atau kurang beriman. Kami berharap para pemimpin, orangtua atau atasan dapat menjadi teladan dalam penghayatan keutamaan kerendahan hati, sehingga sebagai pemimpin, orangtua atau atasan senantiasa hidup dan bertindak dengan semangat melayani.

·   Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi."(Hos 6:3). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita: kita diajak untuk berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita diciptakan oleh Tuhan serta dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana adanya saat ini merupakan anugerah atau karya Tuhan, yang kita terima melalui orang-orang yang telah mengasihi kita atau berbuat baik kepada kita. Maka mengenal Tuhan juga dapat diartikan mengenal dan mengakui kebaikan dan kasih saudara-saudari kita, orangtua, pendidik/guru kita, dst… Kita semua telah menerima banyak kasih, maka selayaknya hidup dijiwai oleh terima kasih. Dengan kata lain orang yang mengenal Tuhan berarti senantiasa berterima kasih, menghayati segala sapaan, sentuhan, tegoran orang lain sebagai kasih. Sebagai ungkapan terima kasih kita berarti kita juga dipanggil untuk mengasihi orang lain dimanapun dan kapanpun. Orang yang hidup dalam dan oleh kasih memang “seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi”, kehadiran dan sepak terjangnya dimanapun dan kapanpun senantiasa menyegarkan dan menggairahkan orang lain. Orang yang mengenal Tuhan akan menghayati segala sesuatu dalam Tuhan atau mampu menemukan Tuhan dalam segala sesuatu; ia senantiasa dalam keadaan gembira, segar-bugar, dan dengan demikian menarik, mempesona dan memikat orang lain. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua: jika kita tidak gembira, segar bugar dan bergairah berarti ada dosa atau kekurangan dalam diri kita, maka baiklah hal itu kita sadari dan kemudian mengaku dosa, mohon kasih pengampunan dari Tuhan.

 

“Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. Lakukanlah kebaikan kepada Sion menurut kerelaan hati-Mu bangunkanlah tembok-tembok Yerusalem! Maka Engkau akan berkenan kepada korban yang benar, korban bakaran dan korban yang terbakar seluruhnya” (Mzm 51:18-21)

 

Jakarta, 13 Maret 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: