13 Jan

“Angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (1Sam 8:4-7.10-22a; Mrk 2:1-12) “Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehing…

“Angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”

(1Sam 8:4-7.10-22a; Mrk 2:1-12)

“Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" — berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"Dan orang itu pun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat." (Mrk 2:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Mujizat yang dibuat oleh Yesus membuat iri hati atau pikiran jahat para ahli Taurat, karena mereka merasa tersaingi dengan kehadiran dan karya Yesus. Sebaliknya orang-orang kebanyakan atau rakyat menjadi semakin percaya kepadaNya bahwa Ia adalah Penyelamat Dunia yang telah dijanjikan oleh Allah, dan mereka pun berkata “Yang begini belum pernah kita lihat”. Mereka menyaksikan bagaimana orang lumpuh karena sabdaNya menjadi sembuh dan dapat berjalan normal. Mungkin di antara kita juga dengan mudah iri hati serta merasa disaingi ketika ada sesuatu yang baru dan lebih menarik, mempesona dan berpengaruh; jika demikian adanya kami ajak menghayati sabda Yesus kepada orang lumpuh yang baru saja disembuhkan, yaitu “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”. Pulang ke rumahmu artinya kembalilah ke jati dirimu sebagai ciptaan Allah, yang diciptakan untuk menghormati, mengabdi dan memujiNya melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimanapun dan kapanpun sesuai dengan panggilan, tugas pengutusan atau kewajiban masing-masing. Dengan kata lain: sebagai orang yang katolik hendaknya menghayati kekatolikannya, sebagai orang beragama menghayati ajaran agamanya, sebagai suami/isteri, imam, bruder atau suster menghayati janji atau kaulnya dst… Hendaknya jangan saling iri hati atau merasa diisaingi oleh orang lain yang memang sungguh berbeda dengan kita.     

·   Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya; ia akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh; mereka akan membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; senjata-senjatanya dan perkakas keretanya akan dibuat mereka. Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan. Selanjutnya dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawainya” (1Sam 8:11-14), demikian kata Samuel kepada bangsanya. Apa yang digambarkan oleh Samuel perihal raja ini kiranya raja yang serakah dan ingin memperkaya diri, dan rasanya kebanyakan raja di dunia ini demikian adanya. Raja pada umumnya ingin disembah, dipuji dan dihormati serta kepadanya dipersembahkan upeti, tetapi tak pernah melayani. Hal ini kiranya kebalikan dalam Gereja Katolik dimana para pemimpin sungguh berhasrat dan berkehendak untuk melayani, meneladan Yesus yang datang untuk melayani dan bukan dilayani. Maka kami berharap kepada siapapun yang menjadi pemimpin dalam umat katolik di tingkat apapun kami harapkan bersemangat melayani. Bapak atau ibu keluarga hendaknya bersemangat melayani, yaitu melayani anak-anak yang dianugerahkan kepada mereka. Melayani berarti senantiasa berusaha membahagiakan yang dilayani, maka para orangtua kami harapkan sungguh berusaha membahagiakan anak-anaknya, dengan gembira dan ceria memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anaknya disamping dana/uang atau harta benda. Kebahagiaan sejati para orangtua adalah jika anak-anaknya juga dalam keadaan bahagia masa kini maupun mendatang ketika mereka sudah dewasa dan mungkin juga berkeluarga, menjadi imam, bruder atau suster.

“Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, ya TUHAN, mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu; karena nama-Mu mereka bersorak-sorak sepanjang hari, dan karena keadilan-Mu mereka bermegah. Sebab Engkaulah kemuliaan kekuatan mereka, dan karena Engkau berkenan, tanduk kami meninggi” (Mzm 89:16-18).

Ign 13 Januari 2012

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...