13 Agustus

“Janganlah menghalangi mereka datang kepadaKu”

(Yos 24:14-29; Mat 19:13-15)

” Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ” (Mat 19:13-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ada orang merasa terganggu atas kehadiran anak-anak kecil dalam suatu pertemuan, padahal mereka juga pernah menjadi anak-anak kecil, misalnya pastor marah-marah ketika dalam ibadat atau perayaan ekaristi ada anak kecil menangis atau berlari-lari di tempat ibadah. Anak-anak kecil memang dinamis dan ada kemungkinan nakal atau merepotkan orang-orang dewasa, sebagaimana terjadi  di antara para muridNya yang memarahi orang-orang yang membawa anak kccil datang menghadap Yesus agar Yesus meletakkan tanganNya atas anak-anak tersebut. Saya juga pernah mengingatkan dan menegor dewan paroki di suatu paroki, yang katanya pastor paroki maupun tempat ibadat/gedung gereja ‘terganggu’ dengan lalu lalang anak-anak TK dan SD, yang kebetulan sekolah yang bersangkutan menjadi satu komplek dengan pastoran dan gedung gereja. Saya ingatkan mereka jika anak-anak dilarang mendekati pastor maupun masuk/mampir di gereja menjelang atau usai sekolah, maka tidak akan pernah ada anak-anak yang tertarik untuk menjadi pastor maupun aktivis paroki  di masa depan. “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga”, demikian sabda Yesus. Anak-anak kecil adalah lebih suci daripada orang dewasa atau orangtua; tidak mengasihi dan memperhatikan anak-anak kecil agar ‘datang kepada Tuhan’ berarti bunuh diri pelan-pelan. Anak-anak kecil adalah masa depan kita, orang dewasa, maka tidak mengasihi dan memperhatikan mereka berarti kita tidak memiliki masa depan. Marilah meneladan Yesus dengan ‘meletakkan tangan kita’ atas anak-anak dalam dan dengan kasih serta rendah hati. Kami berharap para orangtua sungguh mendidik dan membina anak-anak agar tumbuh berkembang sebagai pribadi  cerdas beriman.

·    "Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah, dan firman-Nya akan kami dengarkan.” (Yos 24:24), demikian jawaban seluruh bangsa terpilih, yang sedang dalam perjalanan menuju tanah terjanji,   menanggapi ajakan Yosua. Hendaknya jawaban ini juga menjadi pilihan cara hidup dan cara bertindak kita sebagai orang beriman atau beragama. Beribadah berarti mengarahkan hati sepenuhnya kepada Allah, sebagaimana sering kita hayati selama berpartisipasi dalam ibadat atau perayaan ekaristi.  Namun baiklah saya mengajak kita semua untuk menghayati kerja atau tugas bagaikan beribadah alias bersama dan bersatu dengan Allah terus menerus dalam hidup sehari-hari. Pemimpin biara kontemplatif suster-suster di Gedono, Salatiga, Jawa Tengah pernah mengatakan bahwa para suster berrekreasi sepanjang hari, tetapi berrekreasi bersama dengan Allah. Menghayati tugas atau kerja bagaikan ibadah, berarti rekan kerja atau tugas bagaikan rekan ibadah, tempat tugas atau kerja bagaikan tempat ibadah, suasana tugas atau kerja bagaikan suasana ibadah, merawat sarana tugas atau sarana kerja bagaikan sarana ibadah, dst… Salah satu sikap yang utama dan terutama untuk itu adalah rendah hati, agar dapat beribadah dengan baik serta menderngarkan firman Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tubuh. Firman Allah hendaknya didengarkan dengan rendah hati; firman Allah antara lain terwujud dalam aneka kehendak baik saudara-saudari kita, maka marilah saling mendengarkan dan menanggapi dengan rendah hati. Tak lupa kami ingatkan juga untuk mendengarkan kehendak baik anak-anak kita untuk ditanggapi. Secara khusus kami berharap ketika anak-anak ada yang tergerak untuk menjadi imam, bruder atau suster, kami harapkan orangtua dengan rela hati mendukung dan mengizinkannya, mengingat dan memperhatikan jumlah imam, bruder atau suster pada masa kini semakin merosot. Tentu saja kepada para imam, bruder dan suster kami harapkan juga hidup dan bertindak dengan rendah hati serta ‘mendengarkan anak-anak’, agar mereka tergerak mengikuti panggilan anda.

Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada TUHAN: “Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.” (Mzm 16:1-2a.5)

Ign 13 Agustus 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: