"Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."

Mg Biasa XXIV: Kel 32:7-11.13-14; 1Tim 1:12-17; Luk 15:1-32(Luk 15:1-10


 

Masa Puasa bagi saudara-saudari kita umat Islam baru saja berlalu dan kiranya pada hari-hari ini kebanyakan dari kita masih bersenang-senang merayakan hari raya Idul Fitri. Salah satu kebijakan yang mewarnai selama masa Puasa antara lain semua tempat hiburan seperti ‘café, karaoke, panti pijat, tempat pelacuran, dst.’ harus ditutup guna menghormati mereka yang sedang berpuasa. Menyikapi kebijakan tersebut ada yang berkomentar “Apakah kebijakan tersebut tidak merupakan sandiwara, karena setelah Puasa alias setelah hari raya Idul Fitri mereka boleh buka atau bekerja lagi”. Mereka yang berkarya di tempat-tempat hiburan maupun yang mendatangi dinilai sebagai orang-orang berdosa, dan mungkin demikian adanya. Paradigma atau cara berpikir manusia memang berbeda dengan paradgima atau cara berpikir Tuhan: manusia lebih cenderung menyingkirkan dan mengurung orang-orang berdosa atau yang dinilai sebagai sampah masyarakat, sedangkan Tuhan menghendaki agar mereka dirangkul dan diampuni dosa-dosanya agar bertobat. Hemat saya para pendosa atau mereka yang dinilai sebagai sampah masyarakat tersebut dalam perjalanan hidup kurang menerima dan menghayati kasih sayang maupun kasih pengampunan, maka mereka hendaknya disikapi, didekati dan diperlakukan dengan kasih saya dan kasih pengampunan yang dijiwai oleh kerendahan hati yang mendalam, sebagaimana dihayati oleh Yesus.

 

“Akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."(Luk 15:10)

Yesus adalah Penyelamat Dunia, Ia datang ke dunia untuk menyelamatkan dunia seisinya, maka dimana ada yang tidak selamat Dia datangi untuk diselamatkan, antara lain orang-orang berdosa. Kita yang beriman kepadaNya dipanggil untuk melakukan apa yang Ia lakukan, meneladan cara hidup dan cara bertindakNya, antara lain dengan rendah hati ‘menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka’. Siapakah orang-orang  berdosa di lingkungan hidup kita? Orang-orang berdosa yang ada di lingkungan hidup kita tidak lain adalah mereka yang kita pandang dan nilai ‘kurang dari pada kita’ alias kita nilai bodoh, nakal, kurang ajar, bermasalah, egois, kurang/tidak sosial, dst.., dan mereka ini mungkin ada di dalam keluarga, komunitas atau tempat kerja/tugas kita  masing-masing. Dengan kata lain marilah kita menedalan cara hidup dan cara bertindak Yesus di komunitas basis kita masing-masing, dimana kita tinggal dan hidup di dalamnya.

 

‘Mempertobatkan orang-orang berdosa’ memang tidak mudah, butuh pengorbanan dan kerja keras serta kerendahan hati yang mendalam. Ada kemungkinan kita ‘dirasani’ tidak  baik atau dilecehkan, sebagaimana orang-orang Farisi mengomentari Yesus yang ‘menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka’. Ada kemungkinan kita juga ditolak oleh orang-orang yang hendak kita ajak untuk bertobat. Namun sebagaimana disabdakan oleh Yesus ‘akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang dosa yang bertobat’, marilah kita tetap tegar dan sabar dalam membantu pertobatan orang lain, meskipun harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan serta masalah.  Jika kita mampu membantu pertobatan seseorang, betapa bahagianya kita sebagai umat beriman dan kebahagiaan kita tak akan mudah luntur atau musnah. Dalam membantu pertobatan orang lain hendaknya tidak melupakan doa, berdoa mohon rahmat pertobatan atau kasih pengampunan bagi saudara atau saudari kita yang kita dambakan untuk bertobat, karena yang benar adalah bahwa Tuhan sendiri yang mampu mempertobatkan orang-orang berdosa, sedangkan kita hanya menjadi sarana bantuan saja. Doa-berdoa merupakan salah satu cirikhas hidup orang beriman atau beragama, maka jangan sampai kita melupakan hidup doa kita masing-masing.

 

"Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal” (1Tim 1:15-16)

 

Kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang beriman identik dengan kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang berdosa, yang dikasihi dan dipanggil Tuhan. Kebenaran itulah yang juga menghidupi Paulus, rasul agung. “Di antara mereka akulah yang paling berdosa’, demikian kata Paulus, yang sebaiknya kita renungkan dan refleksikan. Menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa juga berarti menyadari dan menghayati diri sebagai orang yang telah menerima kasih pengampunan Allah secara melimpah ruah, dengan dengan demikian hidup dengan penuh syukur dan terima kasih. Syukur dan terima kasih ini kita hayati dan teruskan kepada saudara-saudari kita, antara lain dengan senantiasa mengampuni mereka yang telah menyakiti kita atau bersalah terhadap kita.

 

Sebagai yang telah dikasihi dan diampuni kita juga dipanggil untuk menjadi saksi kesabaran alias hidup dengan penuh kesabaran. “Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Sabar kiranya merupakan salah satu keutamaan yang mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan dalam kehidupan kita sehari-hari masa kini, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang kurang/tidak sabar, sebagaimana dapat kita lihat dan cermati di antara para pengendara di jalanan. Ketidak-sabaran juga menjangkiti banyak generasi muda masa kini, antara lain dalam hal menikmati hubungan seksual, dimana cukup banyak muda-mudi yang sedang berpacaran berhubungan seks, sehingga sang gadis hamil. Dampak ketidak-sabaran adalah kehancuran atau musibah yang membekas dalam hati.

 

“Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya." Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya” (Kel 32:13-14), demikian berita perihal pengalaman bangsa terpilih yang telah berdosa, tidak sabar di dalam perjalanan menuju tanah terjanji. Ketidak-sabaran mereka mendorong mereka hidup dan bertindak seenaknya, sehingga Tuhan merancang untuk mendatangkan malapetaka bagi mereka, namun karena doa salah satu dari mereka yang memimpin dalam perjajalanan, akhirnya Tuhan membatalkan untuk mendatangkan malapetaka.  Maka baiklah kita meneladan pengalaman bangsa terpilih yang sedang dalam perjalanan tersebut, bukan meneladan ketidak-sabaran dan hidup seenaknya, melainkan meneladan doanya, ingat akan Tuhan di dalam perjalanan. Dengan kata lain marilah kita awali perjalanan hidup, tugas, pekerjaan dan langkah-langkah atau kepergian kita dengan doa, dan selama perjalanan tidak melupakan untuk berdoa kepada Tuhan mohon perlindungan dan pendampinganNya agar selamat dalam perjalanan dan sampai tujuan.

 

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!”

 (Mzm 51:3-4.12-13)

             

Jakarta, 12 September 2010

 

     

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.