12 April

0
5

“Kamu adalah saksi dari semuanya ini”

(Kis 3:11-26; Luk 24:35-48)

“Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!" Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?" Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini” (Luk 24:35-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Bercakap-cakap atau sharing perihal pengalaman akan penampaikan Yesus yang telah dibangkitkan dari mati, itulah yang sedang terjadi di antara para murid. Di tengah-tengah percakapan tersebut tiba-tiba Yesus menampakkan Diri serta memberi salam kepada mereka “Damai sejahtera bagi kamu”. Untuk memperkuat iman mereka maka Yesus pun makan bersama dengan mereka dengan makanan apa adanya, dan mereka pun kemudian “dibuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci”. Ia kemudian juga memberi perintah kepada mereka agar mereka menjadi saksi atas semua yang telah terjadi dan mereka alami. Pada masa sekarang ini kiranya yang cukup mendesak dan up to date ialah menjadi saksi damai sejahtera, sebagaimana juga disampaikan oleh Yesus kepada para murid. Untuk itu kiranya diri kita sendiri hendaknya senantiasa dalam keadaan damai sejahtera, baik lahir maupun batin, karena kita telah dikuatkan dengan ‘wafat dan kebangkitan Yesus dari mati’, yang berarti kita telah bersama dan bersatu denganNya. Damai sejahtera itu antara lain juga dapat kita wujudkan dengan memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa dalam namaNya. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa setiap hari kita mendoakan doa Bapa Kami, yang antara lain berdoa “ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah  kepada kami”. Kasih pengampunan merupakan dasar atau landasan damai sejahtera, maka semoga apa yang kita doakan tidak hanya manis di mulut tetapi juga nikmat dalam tindakan dan perilaku, karena kita senantiasa mengampun siapapun yang bersalah kepada kita atau yang menyakiti dan mempersulit hidup kita. Salah satu wujud konkret hidup bersama dalam damai sejahtera adalah ‘makan bersama’ apa adanya dengan penuh ceria dan bahagia.

·   Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus” (Kis 3:19-20), demikian kutipan dari kotbah Petrus. Kiranya sebagai murid-murid Yesus atau orang yang percaya kepada Yesus Kristus kita juga diundang atau dipanggil untuk meneladan Petrus: mengajak siapapun juga untuk menyadari kelemahan dan dosa-dosanya serta kemudian bertobat atau memperbaharui diri. Menyadari kelemahan, keterbatasan dan dosa-dosa merupakan langkah awal yang meyakinkan untuk bertobat dan memperbaharui diri terus-menerus, karena dengan demikian yang bersangkutan pada umumnya juga memiliki keterbukaan diri untuk tumbuh dan berkembang alias diperbaharui terus-menerus alias bersikap mental belajar. Belajar tidak hanya terjadi ketika berada atau masih di dalam sekolah atau pendidikan formal, melainkan juga selama bekerja atau hidup dimanapan orang dapat belajar. Hidup, bertindak dan bekerja dengan semangat belajar akan mendatangkan kelegaan hati yang luar biasa.  Bersikap mental atau bersemangat belajar memang dijiwai oleh keutamaan kerendahan hati atau orang yang rendah hati senantiasa bersikap mental belajar terus menerus, tiada henti sampai mati. Kami berharap para orangtua atau pemimpin dapat menjadi teladan dalam hal kerendahan hati dan sikap mental belajar  bagi anak-anak atau anggotanya.

“Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya. Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan” (Mzm 8:5 -9)

Ign 12 April 2012

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here