11 Okt

“Bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.”

(Rm 1:16-25; Luk 11:37-41)

” Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya: "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.” (Luk 11:37-41), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dalam kehidupan bersama masa kini kiranya lebih banyak orang yang suka menampilkan bagian luar yang kelihatan bersih daripada bagina dalam, karena bagian dalamnya kotor atau tidak bersih. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk jujur terhadap diri sendiri, terutama apa-apa yang ada di dalam batin atau hati kita. Apa yang ada di dalam batin atau hati kita kiranya yang mengetahui hanya diri kita sendiri. Kita dipanggil untuk tidak bersandiwara dalam kehidupan dan kerja sehari-hari, tidak bersikap mental seperti orang-orang Farisi ‘yang bersih bagian luarnya, namun di dalam hatinya penuh kejahatan dan rampasan’. Kami berharap kejujuran terhadap diri sendiri ini sedini mungkin dididikkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluaga dengan teladan konkret dari orangtua serta kemudian diperdalam dan diperkembangkan lebih lanjut di sekolah-sekolah. Bagi para guru di sekolah-sekolah hendaknya dihayati kata ini “guru berarti digugu lan ditiru” (=ditaati dan ditiru). Pada masa kini pada umumnya anak-anak lebih mentaati dan meniru para gurunya daripada para orangtuanya, karena kalau tidak taat kepada guru pasti ada sangsinya, sedangkan tidak taat kepada orangtua dibiarkaan saja.  Para guru di sekolah-sekolah hendaknya sungguh jujur, sehingga para peserta didik kemudian juga belajar dan berusaha untuk hidup dan bertindak jujur. Hidup dan bertindak jujur pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan, mengingat dan memperhatikan kebohongan dan korupsi masih marak di sana-sini, termasuk dalam bidang pendidikan maupun agama. Para penegak hukum dan kebenaran maupun wakil rakyat yang seharusnya memperjuangkan kepentingan rakyat telah terjebak untuk hanya memperhatikan kepentingan pribadi yang kemudian melakukan korupsi. Semoga rakyat tidak meniru mereka atau terpengaruh oleh mereka yang dengan seenaknya melakukan korupsi atau cari enaknya sendiri.

·   Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.” (Rm 1:22-24). Kiranya cukup banyak orang yang merasa penuh hikmat, padahal dalam kenyataannya mereka adalah bodoh. Hal ini sering dilakukan oleh para pemimpin atau atasan dalam rangka menjaga wibawa atau demi gengsi. Ada juga orang yang nampaknya suci atau baik padalal yang bersangkutan sebenarnya brengsek atau jelek. Kebiasaan untuk ‘memoles diri’ sehingga kelihatan cantik atau tampan tidak hanya terjadi dalam hal tubuh atau wajah saja, tetapi juga dalam kehidupan pribadi atau bersama. Yang juga sungguh memprihatinkan pada masa kini adalah proyek pembuatan jalan atau rehabilitasi jalan: ketika baru saja diperbaharui atau dibangun jalan begitu  mulus namun dalam beberapa bulan setelah jalan difungsikan hancur atau rusak. Sapaan Paulus kepada umat di Roma mengingatkan dan mengajak kita semua untuk tidak hidup dan berindak pura-pura atau sandiwara, melainkan jujur apa adanya. Orang yang  tidak jujur selain mencemarkan atau mencelakakan orang lain juga mencemarkan dan mencelakakan diri sendiri. Kita juga diingatkan untuk tidak saling mencemarkan tubuh, secara konkret menjaga dan mengusahakan tubuh tetap suci  dan sehat wal’afiat. Maka kami berharap kepada kita semua untuk tidak melakukan tindakan-tindakan amoral seperti hubungan seks bebas, melacurkan diri atau pergi ke pelacuran demi uang atau kenikmatan seksual yang bersifat sementara. Memang mengusahakan dan menjaga tubuh tetap suci akan menghadapi aneka tantangan dan hambatan, apalagi pada masa kini cukup banyak tawaran-tawaran kenikmatan yang diiklankan melalui aneka cara dan bentuk. Hidup, makan dan minum, istirahat dan kerja secara teratur juga merupakan salah satu usaha untuk menjaga dan mengusahakan kesucian atau kesehatan tubuh.

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari,”

(Mzm 19:2-5)

Ign 11 Oktober 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply