11 Okt – Gal 4:22-24.26-27.31-5:1; Luk 11:29-33

"Tidak seorang pun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang”

(Gal 4:22-24.26-27.31-5:1; Luk 11:29-33)


“Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!" "Tidak seorang pun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya” (Luk 11:29-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Cara hidup dan cara bertindak seseorang mencerminkan keyakinan iman atau kepribadiannya atau sebagai tanda macam apakah orang yang bersangkutan. Demikian juga cara berpakaian juga mencerminkan pribadi yang bersangkutan. Warta Gembira hari ini meningatkan dan mengajak kita dua hal, yaitu (1) hendaknya kita hidup dan bertindak sesuai dengan iman atau ajaran kita masing-masing dan (2) hendaknya kita peka terhadap cara hidup dan cara bertindak saudara-saudari kita untuk mengenali siapakah dia sebenarnya. Pertama-tama dan terutama marilah kita hayati iman kita dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari alias dalam atau dengan semangat iman kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita transformasikan aneka macam nilai dan keutamaan hidup yang telah kita terima atau dengarkan atau ketahui ke dalam cara berperilaku kita sehari-hari. Keunggulan hidup beriman terletak pada cara hidup dan cara bertindak atau berperilaku. Selanjutnya hendaknya kita peka akan tanda-tanda zaman, entah dalam aneka peristiwa yang terjadi di lingkungan hidup kita maupun dalam apa yang dilakukan oleh saudara-saudari kita. Jika kita peka terhadap aneka macam tanda-tanda atau gejala yang ada di lingkungan hidup kita kiranya kita akan hidup dan bertindak dengan bijak dan menyelamatkan. Mungkin latihan kepekaan ini pertama-tama dan terutama peka terhadap apa yang terjadi dalam tubuh kita masing-masing, sehingga kita dapat menempatkan diri dengan baik dalam kehidupan bersama dimanapun dan kapanpun. Apa yang terjadi dalam diri kita antara lain: bagi rekan-rekan perempuan adalah pengalaman atau peristiwa menjelang, saat atau sesudah mentruasi, sedangkan bagi rekan-rekan laki-laki terkait dengan kesehatan antara lain ketika bangun pagi badan terasa pegal atau tidak enak ada kemungkinan ada kelebihan kolesterol atau trikeserit dalam tubuh kita, dst..

·   "Bersukacitalah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembira dan bersorak-sorailah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami.” (Gal 4:27). Kutipan surat Paulus kepada umat di Galatia ini kiranya mengajak dan mengingatkan kita semua agar “hidup tidak hanya untuk diri sendiri tetapi bagi orang lain” alias sosial terhadap saudara-saudari kita. Hidup dan segala sesuatu yang menyertai kita atau kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah Allah, maka harus dihayati atas nama Allah demi kebahagiaan atau keselamatan semua orang. Secara khusus mungkin peringatan Paulus tersebut terarah kepada siapapun yang hidup membujang alias tidak kawin/menikah demi Kerajaan Allah, misalnya sebagai pastor, bruder atau suster. Pengalaman saya pribadi sebagai pastor, saya merasa memiliki banyak sahabat dan juga tugas pelayanan yang harus saya laksanakan atau kerjakan. Maka kami berharap kepada rekan-rekan pastor, bruder atau suster dapat menjadi teladan atau saksi hidup melayani semua orang, tanpa pandang bulu atau SARA, sebagai kesaksian iman pada Yesus Kristus, Penyelamat Dunia. Baca apa yang tertulis dalam Kitab Suci perihal Yesus Kristus, yang bergaul dan melayani semua orang, dan memang kepada masing-masing dilayani berbeda-beda sesuai dengan tugas dan panggilannya di dunia ini. Maka kami berharap kepada rekan-rekan pastor, bruder dan suster untuk senantiasa memperdalam dan memperluas pergaulan maupun pelayanan kepada siapapun juga, tanpa pandang bulu atau SARA.

 

Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN! Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya. Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN. TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit. Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?

 (Mzm 113:1-6)

 

Jakarta, 11 Oktober 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: