11 Nov – Flm 7-20; Luk 17:20-25

“Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.”

(Flm 7-20; Luk 17:20-25)


“Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.” (Luk 17:20-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Martinus dari Tours, Uskup, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Kerajaan Allah berarti Allah yang meraja atau berkuasa. Dalam melaksanakan kuasanya Ia terus menerus berkarya di dalam seluruh ciptaanNya, terutama dalam diri manusis, maka Yesus bersabda “Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu”. Mereka yang sungguh dirajai atau dikuasai oleh Allah di dunia pada masa kini pada umumnya tak akan terlepas dari aneka macam bentuk penderitaan, mengingat dan mempertimbangkan bahwa kemerosotan moral yang terjadi hampir di semua bidang kehidupan masih marak di sana-sini. Orang yang hidup baik dan berbudi pekerti luhur memang harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah, yang menguji, memurnikan dan memperteguh kebaikannya. Allah yang meraja atau berkuasa nampak dalam perilaku atau cara hidup orang yang baik dan berbudi pekerti luhur, dan hanya orang yang memiliki hati yang peka akan nilai-nilai spiritual atau keutamaan-keutamaan hidup mampu melihat, menangkap dan mengimaninya. Memang mereka yang bersikap mental Farisi alias yang bersikap mental gila akan kuasa dan kehormatan duniawi tak akan mampu melihat, menangkap dan mengimaninya, karena mereka sendiri merasa menjadi raja atas dirinya sendiri serta orang lain di sekitarnya. Marilah kita hayati dan imani karya Allah dalam diri kita masing-masing, yang menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan serta hati untuk mencinta, bersyukur dan berterima kasih. Kita hayati dan imani bahwa segala sesuatu yang baik, indah, mulia, luhur dalam diri kita adalah angerah atau karya Allah.


·   Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kauhiburkan, saudaraku.” (Flm 7),  demikian kesaksian iman Paulus kepada Filemon. Orang-orang kudus adalah orang-orang suci, yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dalam dan melalui hidup sehari-hari. Dalam iman kita hayati bahwa para uskup adalah kudus, yang terpilih dan suci. Merupakan kegembiraan besar bagi para uskup ketika kita sebagai umat Allah hidup saling mengasihi dan melayani, karena hal itu juga menjadi tugas utama para uskup, hidup mengasihi dan melayani. Maka kalau hari ini kita mengenangkan St.Martinus, uskup, kami mengajak anda sekalian, sebagai umat Allah; marilah kita dukung karya uskup kita masing-masing dengan hidup saling mengasihi dan melayani. Ingatlah dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah yang terkasih, buah kasih, maka perjumpaan antar kita dimanapun dan kapanpun hendaknya secara otomatis saling mengasihi, karena bertemu dengan orang lain berarti yang terkasih bertemu dengan yang terkasih. Paulus mengatakan bahwa dari kasih diperoleh kegembiraan dan kekuatan. Rasanya apa yang dikatakan oleh Paulus ini bukan omongan kosong belaka, melainkan sungguh nyata. Coba refleksikan pengalaman anda sendiri: bukankah ketika anda merasa dikasihi pasti akan gembira dan kuat, tidak takut dan tidak gentar menghadapi aneka macam masalah, tantangan dan hambatan kehidupan? Binatang buas pun ketika didekati dalam dan oleh kasih akan terkalahkan alias dapat menjadi sahabat, apalagi manusia. Marilah kita sikapi segala sesuatu yang mendatangi kita sebagai kasih, sehingga kita senantiasa hidup dalam kasih dan syukur. Jika kita sungguh hidup dalam kasih dan syukur, imanilah kita pasti kuat menghadapi aneka macam masalah, tantangan dan hambatan kehidupan.

 

“TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya” (Mzm 146:7-10)

 

Jakarta, 11 November 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: