11 Mei – Kis 8:1b-8; Yoh 6:35-40

“Sungguhpun kamu telah melihat Aku kamu tidak percaya”

(Kis 8:1b-8; Yoh 6:35-40)

 

“Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya. Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman." (Yoh 6:35-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kata ‘melihat’ dan ‘percaya’ dalam Injil Yohanes merupakan kata kunci yang menjiwai seluruh Injilnya. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk mawas diri: apakah dengan melihat kita langsung percaya. Apa yang kita lihat dengan mata kepala sendiri memang sesuatu yang bersifat phisik atau materi, sedangkan yang dimaksudkan oleh Yohanes dengan ‘melihat’ disini kiranya lebih mendalam, tidak hanya secara phisik atau material  saja melainkan secara  spiritual atau rohani. Memang untuk sampai ke spiritual atau rohani kita diharapkan dapat melihat secara phisik dengan benar, cermat, akurat dan teliti. Dalam kisah perihal penggandaan roti dapat dilihat berarti terjadi mujizat, yang dilakukan oleh Yesus, yang berarti Yesus lebih daripada manusia biasa atau Ia benar-benar Allah yang telah menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa. Di balik peristiwa phisik yang bersifat sementara tersirat sesuatu yang abadi atau kekal, itulah yang harus kita lihat dan imani. “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi”, demikian sabda Yesus. Marilah kita dengan rendah hati datang dan percaya kepada Yesus yang telah wafat dan bangkit dari mati. Percaya kepadaNya berarti mati bagi dosa dan hidup sesuai dengan kehendak Allah, maka marilah kita senantiasa melihat segala sesuai  dalam atau bersama dengan Allah, agar kita semakin percaya kepada Allah, semakin beriman atau semakin suci. Allah senantiasa melihat semua ciptaanNya baik adanya, maka marilah kita lihat apa-apa yang baik, indah, mulia dan luhur dalam ciptaan-ciptaanNya terutama dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah.

·   Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan.Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu” (Kis 8:6-8), demikian berita gembira sekitar pemberitaan Warta Gembira yang disampaikan Filipus. Kita kiranya dapat meneladan Filipus atau para pendengar yang percaya setelah mendengarkan pemberitaan Filipus. Meneladan Filipus berarti kita tidak takut atau gentar sedikitpun untuk dengan setia dengan sepenuhnya pada iman kita masing-masing, sehingga hidup dan bertindak dijiwai oleh iman kita. Mereka yang melihat cara hidup dan cara bertindak kita akan semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Sebaliknya jika kita meneladan para pendengar Warta Gembira, marilah dengan rendah hati dan terbuka kita dengarkan aneka macam saran, kotbah, nasihat, ajaran, wejangan dst.. dari saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Iman kita akan semakin kuat dan handal dengan pendengaran yang baik, karena iman memang muncul dan berkembang melalui pendengaran. Ingat bahwa masing-masing dari kita tumbuh berkembang menjadi pribadi yang ada sekarang ini pertamaa-tama dan terutama karena apa yang kita dengarkan ketika kita masih berada dalam rahim ibu kita masing-masing serta masa balita kita. Marilah kita belajar dari saudara-saudari kita, umat Muslim yang sungguh menghayati ‘mendengarkan’sebagai keutamaan beriman, antara lain dengan mendengarkan suara adzan dari masjid, langgar atau surau merupakan rahmat.  Marilah kita saling memberitakan apa yang baik dan mendengarkan dengan rendah hati.

 

“Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian! Katakanlah kepada Allah: "Betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu; oleh sebab kekuatan-Mu yang besar musuh-Mu tunduk menjilat kepada-Mu. Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, … Pergilah dan lihatlah pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat dalam perbuatan-Nya terhadap manusia:”(Mzm 66:1-4a.5)

 

Jakarta, 11 Mei 2011

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: