100 Hari Mengenang Alm. Sr. M. Fransisca Hariyanti SPM: Ibu Asrama yang Bersahaja (1)

Sr M Fransisca SPM hitam putih

Sejak Awal Ditugaskan di Pelaihari

TULISAN ini dibuat untuk mengenang seratus hari kepergian alm. Sr. Maria Fransisca Haryanti, SPM menghadap Bapa di surga, setelah sempat sakit beberapa waktu lamanya dan dirawat di Rumah Sakit RKZ Surabaya. Suster kelahiran 29 Agustus 1946 ini menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Jumat, 24 Oktober 2014 dan dimakamkan di Pemakaman Kembang Kuning Surabaya.

“Saya mulai bertugas di Kalimantan sejak tahun 1997,” demikian cerita Sr. Fransisca dalam sebuah perbincangan sore itu, Sabtu, 16 Juni 2009. Semenjak itu, suster yang memiliki perawakan subur ini tinggal menetap di Biara Susteran SPM Pelaihari di Jl. Haji Boejasin nomor 32 RT. 21/RW.6 Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut.

“Tugas kami di sini adalah melayani anak-anak transmigrasi yang tinggal di asrama kami,” ucapnya sembari tersenyum. Menurutnya, pada tahun-tahun sebelumnya, anak-anak asrama yang diasuhnya berjumlah 22 orang. Namun jumlah tersebut lama-kelamaan berkurang, karena di desa-desa di pedalaman Pelaihari sudah didirikan SMP dan SMA, misalnya saja di Jorong dan Batu Ampar. “Sekarang jumlah anak asrama tinggal 15 orang anak saja,” terang almarhumah.

Sr. Fransisca dengan jujur mengaku pernah merasakan ketakutan sewaktu pertama kali hendak ditugaskan di Kalimantan. “Saya berpikir bahwa Kalimantan itu masih terdiri dari hutan belantara, tapi setelah sampai di sini (Pelaihari-red), saya melihat kondisinya seperti di Jawa.”

Di Pelaihari pun Sr. Fransisca kemudian mengalami banyak perjumpaan dengan orang Jawa yang bertransmigrasi ke wilayah ini. “Awalnya saya di sini bersama Sr. Martina SPM dan Sr. Ino SPM selama sekitar 3 tahun lamanya. Kemudian tahun 2000 saya tinggal di sini bersama Sr. M. Petra Sumaryati, SPM dan Sr. Agustine, SPM Setelah Sr. Agustine, SPM pindah, lalu digantikan oleh Sr. M. Xaveria Endang Yuliati, SPM” kenangnya sembari bernostalgia ke masa silam.

Pada tahun 2008 yang lalu, Sr. Fransisca merasa teramat bersyukur karena bisa merayakan pesta 15 tahun profesi sebagai suster. Saat berada di Jawa, pesta tersebut dirayakan pada tanggal 26 Juni 2008, sedangkan di Paroki Pelaihari dirayakan bersama Vikjen Keuskupan Banjarmasin Pastor Theodorus Yuliono Prasetyo Adi, MSC; dan dihadiri juga oleh Mgr. FX Prajasuta, MSF dan Mgr. Petrus Boddeng Timang.

In Memoriam Sr Fransiska SPM

Menurut penuturan Sr. Fransisca, pelayanannya di beberapa stasi hanya bersifat membantu saja – yaitu di Stasi Batu Ampar, juga di Stasi Batu Tungku. “Di Batu Ampar itu umatnya guyup (bahasa Jawa, arinya: rukun, damai, bersatu), meski tidak ada romo atau suster, mereka tetap melaksanakan ibadat sendiri. Sebulan kami melaksanakan tiga kali pelayanan ke sana bersama romo, suster ataupun frater. Orang-orang di sana kebanyakan berasal dari Jawa, dan mereka itu orangnya baik semua. Di Batu Ampar jumlah umatnya kian bertambah, sedangkan di Batu Tungku jumlah umat relatif tetap.”

Kedua stasi tersebut masuk dalam wilayah pastoral Paroki Santa Theresia Pelaihari yang merayakan pesta peraknya pada tanggal 7 Oktober 2012 yang lalu dan telah mengalami perkembangan cukup pesat. Dewasa ini di kota Pelaihari terdapat tiga komunitas, yaitu: Parit, Gagas dan Angsau. Sedangkan komunitas luar kota antara lain: Bumi Jaya, Gunung Melati, Gunung Mas, Batu Ampar, Ambawang, DMS (Damit), Sumber Mulya, Alur, Trans 200, Trans 300, Trans 500, Batu Tungku, Sungai Riam, Mekar Sari, Tebing Siring, Nusa Indah, Peno dan Gunung Batu.

Pengalaman istimewa
Pengalaman istimewa yang dialami Sr. Fransisca adalah hidup dan tinggal bersama salah seorang suster pionir SPM Kalimantan, yaitu Sr. M. Petra Sumaryati, SPM. Sore itu secara khusus Sr. Fransisca mengungkapkan kesan-kesannya tentang Sr. Petra, SPM (pimpinan komunitas) yang merupakan salah satu suster SPM yang membuka karya misi di daratan Kalimantan.

Menurut kronik SPM, kedatangan para suster pionir tersebut terjadi pada tanggal 4 Juli 1984. Keempat suster pionir yaitu Sr. Petra, Sr. Brigitta, Sr. Serafine dan Sr. Monique terbang dari Probolinggo, Jawa Timur menuju ke Kalimantan dengan pesawat Garuda.

Mereka tiba di Bandara Syamsudin Noor lalu kemudian meneruskan perjalanan ke Kotabaru (Kabupaten Pulau Laut) dengan mengendarai pesawat DAS (Dirgantara Air Services). Tepat pukul 14.58 WIT tiba di lapangan terbang Stagen Kotabaru diantar oleh Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin Mgr. F.X. Prajasuta, MSF. Malam harinya, pukul 19.00 WIT diadakan misa peresmian komunitas dan perutusan bagi keempat suster SPM di Kotabaru.

Demi hidup dan berkaryanya Gereja di bumi Kalimantan, Kongregasi SPM memberanikan diri membuka komunitas kedua di Banjarmasin. Pada tanggal 7 Juli 1985, rumah di jalan Teluk Kelayan no. 5 Banjarmasin diberkati oleh Mgr. Prajasuta.

Umat Allah yang tinggal terpencar-pencar di daerah transmigrasi Kalimantan tidak mau ketinggalan. Mereka pun mau hidup dan berbakti kepada Tuhan, setia kepada Gereja dan negara. Namun karena keadaan ekonomi yang serba pas-pasan serta karena gangguan kesehatan, maka banyak diantara mereka yang tidak dapat melaksanakan kewajibannya.

Melihat situasi demikian, Kongregasi SPM kemudian mengutus Sr. Petra dan Sr. Patrisia untuk merintis pelayanan di tempat-tempat tersebut. Komunitas baru pun dibuka di Pelaihari dengan menempati rumah yang berlokasi di jalan Parit Mas no. 15 Pelaihari (lokasi Paroki St. Theresia Pelaihari sekarang-red). Tanggal 14 Juli 1985, komunitas ini diberkati dan diresmikan oleh Mgr. Prajasuta.

Tanggal 19 Juli 1988, Komunitas SPM di Tanjung diresmikan dan diberkati oleh (alm) Rm. Julius A. Husin, MSF yang saat itu menjabat sebagai Vikjen Keuskupan Banjarmasin didampingi oleh Pastor Raymundus Rede Blolong, SVD (Pastor Paroki St. Mikael Tamiyang Layang saat itu, masih menjadi wilayah Keuskupan Banjarmasin sebelum pemekaran-red).

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: