10 Nov

(Keb 7:22-8:1; Luk 17:20-25)

Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.” (Luk 17:20-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kerajaan Allah atau Allah yang meraja memang tak dapat dilihat dengan mata kepala kita, namun ‘ada di antara kamu’. Allah yang meraja antara lain menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, maka selayaknya siapapun yang dirajai oleh Allah akan mengalami atau menghadapi aneka penderitaan, tantangan dan hambatan, mengingat dan memperhatikan kemerosotan atau kebejatan moral masih marak di sana-sini dalam aneka bidang kehidupan bersama. Menjadi Paus atau Uskup pada umumnya juga menghadapi aneka masalah dan tantangan alias harus siap sedia untuk ‘stress’, dengan demikian para gembala kita dituntut untuk mahir dalam ‘menejemen stress’ alias mengelola stress. Jika kurang mahir dalam ‘menejemen stress’ akan mudah jatuh sakit. ‘Menejemen stress’ kiranya penting bagi kita semua untuk kita latih, dalami dan perkembangkan dalam aneka bidang kehidupan atau kerja bersama kapan pun dan di mana pun. Paus Leo Agung yang kita kenangkan hari ini “adalah suri teladan bagi siapa pun yang memimpin umat Kristen. Ia penuh semangat, berhati lapang, tetap dalam pendirian, pantang menyerah dalam tugas, beriman teguh pada pusat misteri Kristus yang terdalam: penjelmaan Sang Sabda” (Yayasan Cipta Loka Caraka: Ensiklopedi Orang Kudus/cetakan kelima, Jakarta 1985, hal 193). Kami berharap kepada siapapun yang berpartisipasi dalam memimpin atau melayani umat Allah meneladan semangat Leo Agung yang kita kenangkan hari ini, karena Ia adalah suri teladan bagi siapapun yang memimpin umat Allah, khususnya umat Kristen.     

·   Di dalam dia ada roh yang arif dan kudus, tunggal, majemuk dan halus, mudah bergerak, jernih dan tidak bernoda, terang, tidak dapat dirusak, suka akan yang baik dan tajam, tidak tertahan, murah hati dan sayang akan manusia, tetap, tidak bergoyang dan tanpa kesusahan, mahakuasa dan memelihara semuanya serta menyelami sekalian roh, yang arif, murni dan halus sekalipun” (Keb 7:22-23), demikian gambaran perihal kebijaksanaan. Sifat-sifat kebijaksanan di atas ini selayaknya juga menjadi sifat-sifat para peemimpin dalam kehidupan bersama dimana pun, dalam bidang dan tinngkat kehidupan apa pun. “Mudah bergerak, jernih dan tidak bernoda.., murah hati dan sayang akan manusia”, inilah mungkin sifat-sifat yang hendaknya kita usahakan, perdalam dan perkembangkan. Para pemimpin hendaknya tidak hanya duduk di kursi empuk di kantor atau kamar kerjanya saja, melainkan dengan murah hati dan sayang akan manusia mendatangi atau mengunjungi yang mereka pimpin. Sapalah dan bercakap-cakaplah dengan yang anda pimpin atau layani. Memang agar sapaan dan percakapan menghasilkan buah yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, dari pihak kita dituntut ‘jernih dan tak bernoda’. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa terpilih sebagai pemimpin antara lain karena anda sebagai yang paling jernih dan tak bernoda alias yang tersuci. Memang dalam kehidupan bersama sebagai umat beragama mereka yang tersuci lah yang harus dihormati dan dijunjung tinggi, dan tentu saja semuanya juga dipanggil untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang suci, jernih dan tak bernoda. Orang yang jernih dan tak bernoda tak akan mudah tergoyang oleh aneka tawaran atau godaan atau rayuan yang hendak menggerogoti kejernihan atau kesuciannya, sebaliknya tawaran atau godaan atau rayuan tersebut dihayati sebagai wahana untuk semakin jernih dan tak bernoda, ia menghayati sebagai api membara yang membakarnya, dan dengan demikian semakin nampak kejernihan, kemurnian dan kesuciannya.

” Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga. Kesetiaan-Mu dari keturunan ke keturunan; Engkau menegakkan bumi, sehingga tetap ada. Menurut hukum-hukum-Mu semuanya itu ada sekarang, sebab segala sesuatu melayani Engkau” (Mzm 119:89-91)

Ign 10 November 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply