10 Nov – Tit 3:1-7; Luk 17:11-19

“Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"

(Tit 3:1-7; Luk 17:11-19)


“Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau." (Luk 17:11-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Hidup bersyukur dan berterima kasih rasanya pada masa kini tidak mudah, mengingat dan mempertimbangkan kecenderungan banyak orang untuk lebih menyombongkan diri serta hidup serakah, sebagai dampak kebebasan dalam era reformasi ini. Hal itu kiranya juga didukung tidak adanya atau kurang adanya penghayatan hidup syukur dan terima kasih di antara anggota keluarga atau teman dekat. Dengan kata lain orang kurang menghargai hasil karya atau pelayanan anggota keluarga atau teman dekat dan lebih menghargai hasil karya atau pelayanan orang lain. Maka benarlah dan menarik untuk direnungkan sabda Yesus “Tidak adalah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”. Yesus dan sembilan orang lain yang disembuhkan termasuk orang Yahudi dan yang berterima kasih serta memuliakan Allah tersebut adalah orang Samaria: orang Yahudi dan orang Samaria kurang akrab alias bermusuhan. Apa yang terjadi ini sering kita alami juga, yaitu kita lebih menghargai orang asing daripada bangsa/teman sendiri. Marilah kita tanggapi sabda Yesus di atas dengan mawas diri: sejauh mana kita, sebagai sesama anggota keluarga atau teman dekat, saling bersyukur dan berterima kasih? Agar kita dapat bersyukur dan berterima kasih, mungkin baik begitu bangun pagi mendoakan ini “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Rat 3:22-23). Kita sadari dan hayati bahwa rahmat Tuhan senantiasa dianugerahkan kepada kita melalui orang-orang yang dekat dengan kita setiap hari.


·   “Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.” (Tit 3:1-2), demikian peringatan atau ajakan Paulus kepada Titus, kepada kita semua umat beriman. Kiranya yang baik kita renungkan bersama adalah ‘jangan memfitnah dan bertengkar, melainkan hendaklah selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang’.Ajakan atau peringatan ini kiranya menarik dan up to date untuk kita hayati atau laksanakan mengingat dan mempertimbangkan masih maraknya pertengkaran dan fitnah di sana-sini dalam hidup sehari-hari. Kalau hari kita kita mengenangkan St Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja, baiklah kita dukung tugas Paus antara lain sebagai pemersatu umat Allah, dengan kata lain marilah kita senantiasa mengusahakan persaudaraan dan persahabatan sejati di antara kita. Ajakan untuk ramah dan lemah lembut berarti panggilan bagi kita semua untuk saling menghormati dan melayani sebagai sesama manusia, yang diciptakan oleh Allah sebagai gambar atau citraNya: Allah hidup dan berkarya dalam diri kita masing-masing, manusia, gambar dan citra Allah. Kami berharap para tokoh hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, yang memiliki pengaruh hidup bersama, dapat menjadi teladan dalam memberantas aneka bentuk firnah dan pertengkaran serta menggalang dan menyebarluaskan persaudaraan atau persahabatan sejati, dengan saling ramah dan lemah lembut. Secara khusus kami berharap kepada para orangtua atau bapak-ibu dapat menjadi telahan keramahan dan kelemah-lembutan dalam saling mengasihi bagi anak-anak yang dianugerahkan Allah kepada mereka.


“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah

(Mzm 23:1-5).

Jakarta, 10 November 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: