10 Juni – 1Raj 18:41-46; Mat 5:20-26

“Orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum”

(1Raj 18:41-46; Mat 5:20-26)


“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Mat 5:20-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hampir semua (kalau tak boleh dikatakan semua) orang di dunia ini pernah marah. Marah berarti melecehkan atau merendahkan yang lain. Bentuk marah mulai dari yang paling halus s/d kasar adalah mengeluh -> menggerutu -> marah dengan kata-kata/ngrumpi -> menyakiti secara phisik -> membunuh. Dengan kata lain marah juga berarti menghendaki yang lain tidak ada. Orang marah memang puas dan nikmat sesaat, tetapi kemudian akan menderita cukup lama, maka bernarlah apa yang disabdakan oleh Yesus “Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir, harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil, harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala”. Sebenarnya orang marah tidak perlu dihukum sudah terhukum dengan sendirinya, antara yang bersangkutan dijauhi teman-temannya, makan, minum atau tidur tidak akan nikmat, kehilangan enerji tiada guna, dst..  Maka dengan ini kami mengajak kita semua: marilah kita jauhkan aneka bentuk kemarahan, dan sekiranya anda tergerak ingin marah, marilah kita awali dengan tindakan sebagaimana dinasehatkan orang Jawa ini “Yen arep nesu ngombeo banyu nanging ojo diulu” (=kalau marah marah, silahkan minum air dahulu tetapi jangan ditelan). Apa yang terjadi ketika di mulut anda penuh dengan air, silahkan bercermin sendiri. Nasehat tersebut kiranya senada dengan nasehat ini “Jika anda ingin marah, silahkan membuat tanda salib dahulu”.  Hemat saya lebih baik dan murah meriah hidup berdamai dengan siapapun dan apapun daripada ‘marah’.


·   “Kuasa TUHAN berlaku atas Elia. Ia mengikat pinggangnya dan berlari mendahului Ahab sampai ke jalan yang menuju Yizreel” (1Raj 18: 46). Kuasa Tuhan memang lebih kuat, cepat dan hebat daripada aneka macam sarana-prasarana apapun. Kita semua mengaku diri sebagai orang beriman, maka marilah mawas diri apakah kuasa Tuhan sungguh berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Marilah kita hayati kuasa Tuhan dalam diri kita untuk mendahului berdamai dan bersahabat terhadap mereka yang tergerak untuk marah atau membenci kita. Kuasa Tuhan antara lain menggejala dalam kasih pengampunan yang telah kita nikmati atau terima secara melimpah ruah, maka hidup dalam kuasa Tuhan berarti senantiasa menyalurkan atau menyampaikan kasih pengampunan kepada orang lain dimanapun dan kapanpun. Ingat dan hayati bahwa kasih pengampunan dapat mengalahkan kebencian dan balas dendam, hidup berdamai dan bersaudara dapat menghancurkan aneka macam permusuhan.  Kita juga dapat meneladan Ahab yang taat kepada perintah nabi Elia di dalam hidup sehari-hari, artinya marilah kita dengarkan aneka macam ajakan dan kehendak baik dari saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Carilah dan lihat kehendak baik yang ada dalam diri saudara-saudari kita lebih dahulu. Jika kita mampu melihat dan mengakui kehendak baik orang lain, maka kita dengan mudah bersaudara dan bersahabat dengan siapapun, termasuk mereka yang membenci atau tidak senang terhadap kita  Kita sadari dan hayati bahwa Tuhan senantiasa hidup dan berkarya dalam ciptaan-ciptaanNya, antara lain menganugerahkan perkembangan dan pertumbuhan, daya hidup dan berkembang. Maka lihatlah daya hidup dan berkembang baik dalam diri kita maupun saudara-saudari kita, dan kemudian saling menghidupkan dan memperkembangkan.

 

“Engkau mengindahkan tanah itu, mengaruniainya kelimpahan, dan membuatnya sangat kaya. Batang air Allah penuh air; Engkau menyediakan gandum bagi mereka. Ya, demikianlah Engkau menyediakannya: Engkau mengairi alur bajaknya, Engkau membasahi gumpalan-gumpalan tanahnya, dengan dirus hujan Engkau menggemburkannya; Engkau memberkati tumbuh-tumbuhannya. Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu, jejak-Mu mengeluarkan lemak; tanah-tanah padang gurun menitik, bukit-bukit berikatpinggangkan sorak-sorai” (Mzm 65:10-13)

Jakarta, 10 Juni 2010        

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: