10 Juli – 1Kor 9:16-19.22b-27; Luk 6:39-42

“Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu”

(1Kor 9:16-19.22b-27; Luk 6:39-42)

 

“Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: "Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (Luk  6:39-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pertama-tama saya ucapkan “Selamat Idul Fitri, maaf lahir dan batin” bagi yang sedang merayakannya. Pada hari ini kiranya banyak di antara kita sedang saling bersilaturahmi, bersalam-salaman dan saling memaafkan, dan rasanya juga bertindak sebagaimana disabdakan oleh Yesus hari ini, yaitu ‘mengeluarkan balok dari mata’ alias mengakui dan menghayati kesalahan serta kekurangannya dan kemudian mohon kasih pengampunan pada sesamanya. Semoga apa yang terjadi dan dilakukan pada hari-hari ini terus menjiwai dalam perjalanan hidup dan kerja selanjutnya, sehingga dalam hidup dan kerja sehari-hari kita tidak saling ‘melihat selumbar di dalam mata saudaramu’. Marilah kita jauhkan dan berantas aneka bentuk kemunafikan dalam kehidupan kita bersama, hendaknya masing-masing dari kita dengan rendah hati menyadari dan menghayati diri sebagai pendosa yang diampuni dan dipanggil Tuhan untuk menyalurkan kasih pengampunanNya kepada saudara-saudari kita atau sesama kita dimanapun dan kapanpun. “Seorang murid tidak lebih daripada gurunya”, kita adalah murid-murid atau pengikut Yesus, Sang Guru Sejati, yang datang ke dunia untuk melayani dengan rendah hati yang mendalam. Marilah kita meneladan Guru Sejati dengan hidup saling melayani dengan rendah hati yang mendalam serta saling berpikiran positif terhadap orang lain. Semoga saling memaafkan yang terjadi pada hari-hari ini tidak munafik dan kemudian menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita selanjutnya. Semoga di dalam hidup sehari-hari kita tidak munafik dalam hidup dan bertindak.

·   “Jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor 9:16), demikian kesaksian iman Paulus sebagai pewarta Injil, pewarta Kabar Gembira. Injil adalah Warta Gembira, maka mewartakan Injil berarti mewartakan atau menyebar-luaskan apa-apa yang menggembirakan serta menyelamatkan. Hari ini adalah hari gembira bagi yang sedang merayakan  Idul Fitri, hari kemenangan atas dosa dan kejahatan. Maka apa yang terjadi hari ini sungguh inspiratif dan kiranya memotivasi kita untuk berani berkata dan bersaksi seperti Paulus, yaitu “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil, celakalah aku, jika aku tidak menyebar-luaskan apa-apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan” . Paulus juga bersaksi bahwa upah mewartakan kabar baik atau kabar gembira adalah dalam mewartakan kabar gembira atau baik tersebut. Memang kegembiraan dari berbuat baik kepada orang lain tak mungkin dihargai dengan uang atau harta benda, dan kiranya tak akan mudah hilang atau musnah. Orang yang senantiasa gembira dan ceria juga tabah dan tegar terhadap aneka macam serangan penyakit atau virus, karena secara phisik metabolisme darah dan kinerja syarat berjalan secara prima sebagai anti-body atau benteng kuat melawan aneka serangan penyakit dan virus. Kita semua memiliki keharusan untuk mewartakan kabar baik atau kabar gembira, dan tentu saja kita juga harus gembira dan ceria terus menerus. “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya” (1Kor 9:24). Marilah kita berlomba, saling mendahului dengan cepat, dalam mewartakan apa-apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan. Jauhkan aneka kemalasan dan kelesuan dalam berbuat baik kepada saudara-saudari kita atau sesama kita dalam hidup sehari-hari.

 

SELAMAT IDUL FITRI, 1 Syawal 1431 H, maaf lahir dan batin “

“Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah” (Mzm 84:3-6)

 

Jakarta, 10 September 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: