10 Hari di China: Tidak ada WC di Forbidden City (28)

0
49

TIANANMEN Square di pusat kota Beijing boleh dibilang lokasi paling strategis untuk kemana-mana. Dari ‘balik’ gerbang Tiananmen Square dengan ikon foto besar Ketua Mao Zedong ini pula, akses tercepat, termudah, dan termurah menuju Forbidden City (Kota Terlarang) tersedia dengan cara yang paling ekonomis: jalan kaki.

Saya harus menyebut sekali lagi: jalan kaki. Ini karena di tahun 1999 dan naik bus rombongan, akses masuk ke Forbidden City tidak ‘segampang’ dan semudah seperti perjalanan ke Kota Terlarang awal Agustus 2013 lalu.  Dulu, kami diturunkan di sebuah titik dan kemudian bus mencari lahan parker yang katanya lumayan jauh dari lokasi kami turun. Kemudian harus berjalan setidaknya 700 meter menyusuri sungai hingga akhirnya bisa masuk Kota Terlarang.

Melalui Tiananmen Square di balik gapura besar dengan ikon Ketua Mao, Kota Terlarang hanya selemparan batu jauhnya. Persis di balik gapura itu pula, jalan menuju pintu utama tergelar di depan mata.

Pintu Masuk ke Forbidden City 2

Butuh waktu tak kurang dari 10 menit mencapai pintu utama. Namun, karena Agustus itu musim panas dan sekolah-sekolah baru libur musim panas, jarak yang tak terlalu jauh itu harus kami tempuh dari kurun waktu lebih dari 1 jam.

Di ujung jalan masuk utama menuju pintu gerbang dimana akan terjadi pemeriksaan tiket, tersedia bilik-bilik buang hajat umum alias WC Umum. Jumlahnya 10 bilik. Dan saya memilih mengunjungi bilik hajat umum ini sebelum pergi melanjutkan jalan kaki menuju gerbang utama.

Saya ingin pipis dulu.

Tidak ada WC

Sejak awal saya sudah selalu diwanti-wanti orang, jangan lupa pipis dulu sebelum masuk Kota Terlarang. Peringatan ini terdengar lucu, terutama kalau kemudian dikaitk-kaitan dengan kisah mistis di Kota Terlarang. Padahal seharusnya tidak perlu sampai ‘ke situ’, karena urusan WC sebenarnya lebih urusan praktis saja.

Tidak ada WC di kompleks maha luas Kota Terlarang. Kebelet pipis atau BAB sudah pastilah merupakan siksaan yang teramat sangat.

WC Umum di Olympic Park Beijing

Itu pula sebabnya, saya ingin ke belakang dulu sebelum akhirnya antri membeli tiket. Tapi, saking membludaknya jumlah pengunjung Kota Terlarang pada hari itu –kebetulan juga pas hari Sabtu—saya butuh waktu 45 menit hanya untuk antri ke WC.

Dan setelah masuk, maka saya pun muntah. Tidak tahan melihat kejorokan ‘isi dalam’ bilik-bilik WC yang mobile itu. Semua closet penuh kotoran dan air kencing. Tidak ada air dan juga tidak disiram, karena sistem pengisian air macet atau tidak dibuka.

Tapi, tidak ada pilihan lain kecuali harus rela ‘sengsara’ 1 menit dari pada 2 jam harus ngampet sepanjang jalan berkeliling kompleks Kota Terlarang.

Saya sendiri terheran-heran, kenapa orang-orang lokal mampu ‘bertahan’ dalam derita yang tidak mengenakkan hidung dan menjadi pemandangan yang jorok ini. Tentu karena tidak ada pilihan lain daripada ‘jebol’ di jalan, ya sudah ‘dimuntahkan’ saja di situ.

Pintu masuk ke Forbidden City1

Maka dari itu, saya terpaksa ngalah nahan pipis karena di tengah antrian panjang, tiba-tiba ada satu-dua turis cowok lokal menerobos masuk barisan antrian dan tanpa malu atau apa langsung berdiri di depan bilik pintu WC. Kebetulan hari itu, banyak turis Indonesia ikut antri. Keterkejutan kami sama sekali tidak direspon. Protes kami juga tidak diacuhkan, karena buru-buru cowok-cowok tampang kampung ini dengan mimik memelas memegangi perutnya: tanda sakit diare dan sangat-sangat kebelet.

Ya sudah. Tidak boleh gondok juga, karena kita berada di tanah asing. Namun, begitu mendapat giliran masuk ke bilik yang sama, kegundahan itu bercampur marah karena ternyata gundukan kotoran tidak mereka siram.

Tapi mau disiram pakai apa, kalau di situ juga tidak ada air? Akhirnya saya memberanikan diri tetap ‘masuk’ dan buang hajat beneran: pipis. Dan baru sepersekian detik, saya pun muntah saking baunya bilik buang hajat umum ini.

Jadi, jauh-jauh sebelum masuk pintu utama kompleks Kota Terlarang, jangan lupa pipis dulu. Tentu saja carilah WC dengan sistem  penyiraman kotoran yang bagus.

WC dengan fasilitas penyentoran air yang bagus baru bisa kita temukan di areal pertamanan persis setelah kita melewati internal exit gate yang berada sedikit di luar kompleks Forbidden City.

Photo credit:

  • Bilik-bilik hajat umum (foto illustrasi WC Umum di Kompleks Olympic Park Beijing/Mathias Hariyadi)
  • Suasana keramaian di jalan utama menuju pintu akses masuk ke Kompleks Kota Terlarang (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here