10 Hari di China: Tiananmen Square dari Perspektif Sejarah (21)

< ![endif]-->

ALUN-alun besar dan maha luas ini bernama Tiananmen Square. Sering ditulis agak beda yakni Tia ‘An Men. Alun-alun persis di depan bangunan khusus dengan foto besar Ketua Mao Zedong (Mao Tse Tung) ini telah mendunia, lantaran peristiwa politik di tahun 1989 dimana terjadi gelombang besar demo pro demokrasi oleh para mahasiswa militan China.

Puncak demo besar itu mencapai antiklimaksnya tanggal 4 Juni 1989, ketika akhirnya Pemerintah Pusat China memberlakukan jam malam di Beijing. Segera, protes dunia internasional menyeruak dimana-mana, namun Pemerintah RRC bergeming merespon seruan internasional ini.

Ikon sejarah

Tiananmen Square dalam hitungan hari langsung menjadi ikon sejarah sejak itu. Lantaran persis di lapangan besar dan maha luas inilah aksi-aksi demo para mahasiswa selalu berlangsung. Mirip-mirip dengan Bundaran HI di Jakarta atau depan Kompleks DPR Senayan minus ada lapangan luas tentu saja.

Sejak itu, Tiananmen Square menjadi sangat terkenal.

Untuk para turis, kenangan akan sejarah masa lampau itu belum tentu menarik. Bagi mereka, Tianamen Square adalah lokasi paling ideal untuk kongkow, duduk-duduk lesehan atau foto-foto dengan pemandangan bangunan yang eksotik di kanan-kirinya.

Kami mengunjungi Tiananmen Squara atas dua alasan. Faktor destinasi wisata dan kandungan nilai historis yang teramat panjang di Tiananmen Square.

Jauh-jauh hari –dan bahkan puluhan tahun silam– Tiananmen Square juga sudah menjadi ikon sejarah China.

Di Lapangan Tiananmen ini pula di tahun 1919 terjadi apa yang sering disebut “May Fourth Movement” yang mana gerakan politik ini memuncak sampai pada klimaksnya ketika Pemimpin Besar China Mao Zedong (Mao Tse Tung) memproklamirkan berdirinya Republik Rakyat China (RRC) sebagai negara baru yang berdaulat menggantikan era monarki di China sebelumnya.

Tiananmen_Square

Pada tahun 1976 juga berlangsung demo besar di sini, tak lama setelah PM China Zhou Enlai wafat.

Sebelum kaki melangkah maju ke Lapangan Besar Tiananmen, kita akan  bertemu dengan gapura besar bernama  Zhengyangmen Gate (Qianmen Gate). Dulu di kawasan ini juga ada yang namanya The Gate of China, namun bangunan ini pada tahun 1950 dibongkar habis guna menyediakan lokasi bagi areal pembangunan Maosoleum untuk Ketua Mao Zedong.

Yang pasti, di belakang Tiananmen Gate  yang terkenal dengan ikon foto raksasa Ketua Mao Zedong itu justru berada The Forbidden City yang amat-amat termashyur.

Gapura besar Tiananmen Gate ini konon dibangun pada tahun 1415 era pemerintahan Dinasti Ming. Karena terjadi perang saudara, beberapa ornamen bangunan ini rusak. Pada tahun 1950, bangunan ini dipermak kembali dengan luas bangunan 4 kali lebih besar daripada aslinya.

800px-200401-beijing-tianan-square-overview

Akses menuju Lapangan Tiananmen

Karena posisinya yang sangat strategis dari sudut pandang politik dan wisata, Tiananmen Square sepertinya tak pernah sepi dari ribuan pengunjung setiap hari. Musim panas Agustus 2013 ini, Lapangan Tiananmen ini ibarat kolam manusia dimana ribuan orang rela berpanas-panasan sekedar duduk-duduk, berdiri menyemut mengikuti antrian panjang, atau main jeprat-jepret foto.

Saya termasuk ‘golongan ketiga’: rela berpanas-panas ria demi mendapatkan koleksi foto yang bagus. Namun tak mudah, bisa ‘mengusir’ puluhan orang di depan saya yang memblokir sudut pandang kamera. Minimalis jadinya.

Untuk bisa sampai ke Lapangan Tiananmen, orang bisa naik subway line 1 dan turun di Tiananmen West atau Tiananmen East Station, persisnya di jalur Jl. Chang’an Avenue.

Kalau menggunakan subway line 2, maka kita harus turun di Qianmen Station yang berada di sisi selatan Lapangan Tiananmen.

Tiananmen Lapangan email ok

Bus kota menuju lokasi ini adalah rute 1, 5, 10, 22, 52, 59, 82, 90, 99, 120, 126, 203, 205, 210 and 728 stop north of the Square. Buses 2, 5, 7, 8, 9, 17, 20, 22, 44, 48, 53, 54, 59, 66, 67, 72, 82, 110, 120, 126, 301, 337, 608, 673, 726, 729, 901.

Photo credit: Tiananmen Quare, Beijing, China (Mathias Hariyadi/Ist)

Tautan:

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: