10 Hari di China: The Bund of Shanghai (4)

< ![endif]-->

THE Bund –demikian nama tourist destination di tepi Sungai Huangpu ini—adalah magnet terpopuler di Shanghai. Terletak di pinggiran sungai besar menyusuri Zhongzhan Road, The Bund menjadi pesona tersendiri manakala mengunjungi kawasan pedestrian di tepian sungai (waterfront) yang memanjang dari tepi barat Sungai Huangpu mengarah pandangan ke depan tertuju ke Pudong yang berlokasi di bagian timur Distrik Huangpu.

Pesona The Bund muncul justru pada malam hari.

Di musim summer dengan tinggi suhu udara di Shanghai bisa mencapai temperatur 39-41 Celcius, berjalan menyusuri kawasan The Bund pada siang hari bukanlah hal yang menarik dilakukan. Tapi kalau dilaksanakan pada malam hari, nah The Bund punya kisah cerita tersendiri.

Ribuan datang

Begitu keluar dari stasiun subway di East Nanjing Road di jalur subway line 2, segera hawa turisme di Shanghai bertiup sangat kencang. Baru selangkah keluar dari exit gate, di depan mata sudah berjejeran ribuan orang. Mereka berdesak-desakan berjalan menyusuri jalan-jalan utama menuju The Bund yang terletak di ujung jalan, persis di depan waterfront yang menjadi benteng terakhir memisahkan kawasan trotoar dengan Sungai Huangpu.

Lalu apa istimewanya The Bund?

Shanghai Pudong waterfront Huangpu River

Kalau orang-orang lokal China –termasuk Shanghai dan kawasan sekitarnya saja—sudah rela berpanas-panas ria menyusuri jalanan menuju The Bund, pastilah ada sesuatu yang istimewa di waterfront di hadapan Sungai Huangpu dengan panorama Pudong di depan mata.

Saya melirik kiri-kanan. Selain gedung-gedung dengan pola arsitektur kuna gaya Eropa, The Bund menarik hati lantaran pendaran pencahayaan yang eksotik di malam hari. Terlebih kalau berhasil menyusup masuk di antara kerumunan ribuan orang yang mengantri dengan sabar bisa berdiri di depan waterfront memandangi Pudong dari sebelah Sungai Huangpu.

Eksotisme Shanghai di malam hari tercermin sangat kuat di The Bund.

Asal kata “Bund”

Sejak awal, saya benar-benar tidak mengerti apa arti sebenarnya dari kata “bund” ini.  Menurut penuturan orang setempat, kata Jerman ‘bund’ aslinya berasal dari kata bahasa Persia yakni ‘band’. Kata berbahasa Persia ini kemudian berkembang menjadi satu kata sama berbahasa Hindustan yang berarti kawasan yang dibangun dengan daratan lebih tinggi dibanding lainnya.

Konon, kawasan The Bund ini meniru gaya bangunan trotoar di sepanjang Sungai  Tigris di Irak. Nah, pola bangunan dengan trotoar tinggi di atas perairan sungai inilah yang kemudian diwujudkan dalam sebuah projek pembangunan oleh keluarga Yahudi asal Irak bernama Sassoon pada awal abad ke-19.

Sedikit persis sama dengan bangunan waterfront di Kuching, Serawak, Malaysia Timur.

Benchmark of Shanghai

Ada tiga bangunan gedung dengan arsitektur menarik di kawasan The Bund ini. Yakni, Gedung Konsulat Jenderal Russia, Kantor Bank HSBC, dan Gedung Kantor Bea & Cukai Shanghai plus beberapa gedung bangunan pemerintah China seperti bekas kantor Bank of Communication and the Bund Financial Center.

Di sisi lain ada banyak gedung-gedung kantor pemerintahan asing dari AS, Inggris, Perancis, Italia, Belanda, Jerman, Jepang, dan Belgia.

Namun jangan tanya bagaiman susahnya mencapai The Bund pada malam hari, ketika seluruh jaringan jalan utama menuju akses penting ini ‘dikuasai’ ribuan pejalan kaki. Umumnya, turis mancanegara dan turis lokal.

Bus-bus wisata dan kendaraan-kendaan pribadi sampai lintang pukang tak bisa bergerak bebas, manakala jalan-jalan utama menuju The Bund sudah dipadati ribuan pengunjung.  Begitu pula trotoar jalanan.

Saya sempat kehilangan jejak menemukan keberadaan kedua teman perjalanan saya, hanya kira-kira dua detik lamanya saat saya asyik mashyuk dengan memotret sebuah gedung bangunan Hotel Peace di depan The Bund. Hotel ini dulunya dikenal dengan nama Sassoon House, nama keluarga wangsa Yahudi asal Irak yang menjadi pioner pembangun The Bund pada awal abad ke-19.

Butuh waktu hampir 30 menit untuk bisa kembali menemukan mereka, meski jarak kami sebenarnya hanya terpisah sekitar 15-20 meter saja.

Kapal bersliweran

Bisa berdiri di tepian waterfront menghadap ke arah Pudong jelas merupakan sebuah kemewahan tersendiri. Butuh waktu berjam-jam untuk bisa mencuri kesempatan bisa berdiri di tepian waterfront di atas Sungai Huangpu untuk sekedar menikmati keindahan Pudong di waktu malam.

Ketika saya berhasil berdiri di tepian waterfront untuk membuat gambar, yak ampun belum lagi berhasil jepret, di samping saya sudah berdiri orang lain sehingga jepretan jarak jauh dengan panorama Pudong di waktu malam menjadi kurang sempurna.

Padahal, panorama di depan mata benar-benar indah.

Kapal-kapal pesiar dengan lampu warna-warni bersliweran tanpa henti menyusuri Sungai Huangpu ini. Yang menarik mata terutama karena kapal-kapal pesiar ini suka bersolek dengan pendaran lampu warna-warni. Kalau di siang hari, pastilah kapal-kapal ini juga tak terlalu menarik dilihat.

Justru pada malam hari, The Bund menjadi lebih menawan karena gedung-gedungnya bermain mata dengan warna-warni lampu. Demikian pula Sungai Huangpu menjadi berwarna karena dilintasi puluhan kapal pesiar berhiaskan warna-warni lampu eksotik. (Bersambung)

Photo credit: The Bund of Shanghai di waktu malam (ist)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: