10 Hari di China: Sejarah Peradaban China di Museum Shanghai (10)

< ![endif]-->

KALAU ingin menelisik sejarah peradaban sebuah bangsa, jangan pergi kemana-mana tapi carilah museum. Itu pelajaran berharga yang bisa saya petik ketika belajar sejarah peradaban dan politik bangsa-bangsa. Maka di kota metropolis sebesar Shanghai di wilayah pesisir Timur China, kami pun menyediakan waktu sehari mengunjungi  Shanghai Museum.

Cukup mudah mencari lokasi Museum Shanghai ini. Dari segala penjuru kota Shanghai, tinggal naik subway line 2 warna hijau dan turun di Stasiun People’s Square.  Referensi peta jalur perjalanan subway di Shanghai bisa diakses melalui web ini: http://www.exploremetro.com/static/pdf/en/shanghai.pdf

Masuk gratis

Sama seperti di Vietnam baik di Selatan maupun di Utara, otoritas Pemerintah RRC pun mengizinkan semua pengunjung menyaksikan berbagai koleksi benda-benda sejarah peradaban bangsa mereka sendiri secara gratis. Di Hanoi, banyak pengunjung menaruh minat besar mengunjungi museum perjuangan rakyat Vietnam. Di Saigon –kini bernama Ho Chi Minh City—suasana serupa juga terjadi.

Di Shanghai, barisan antrian pengunjung Museum Shanghai juga membludak. Namun berbeda dibanding museum-museum yang saya lihat baik di Saigon maupun di Hanoi –keduanya di Vietnam—Shanghai Museum lebih merupakan kawasan wisata budaya dan peradaban dibanding museum perjuangan politik.

Museum Shanghai dari depan

Museum ini terbuka untuk umum mulai pukul 09.00 hingga pukul 17.00 waktu setempat. Pengunjung terakhir yang boleh masuk museum paling telat pukul 16.00.  Setelah itu pintu masuk akan ditutup dan pengunjung kloter terakhir ini masih punya waktu hingga pukul 17.00 sebelum akhirnya museum ditutup.

Tidak banyak prosedur pemeriksaan security di Museum Shanghai ini, selain barang-barang bawaan kita harus melalui proses scanning melalui X-Ray. Petugas perempuan yang muda-muda nan manis akan dengan sangat santun meminta kita meminum sedikit sangu botol minuman kita; takut kalau cairan yang kita bawa di botol minuman itu cairan asam atau kimia lainnya.

Shanghai Museum Papan Nama

Maka begitu satu glek minum, mereka dengan senyum yang mengembang langsung mempersilahkan kita membereskan barang-barang bawaan kita. Ya wis kono, mlebua wae. Begitu kira-kira cara mereka menyapa kita dalam terjemahan bahasa Jawa yang saya pahami.

Empat lantai

Shanghai Museum –seperti kesan saya tadi— lebih merupakan museum peradaban dibanding museum sejarah politik. Karena itu, dengan bangunan empat lantai yang super kokoh dan ciamik, yang dipamerkan Museum Shanghai ini adalah sejarah peradaban Bangsa China yang dikenal unggul, maju, dan bernilai artistik tinggi.

Itulah sebabnya di beberapa lantai expo, tersedia setidaknya 3 sampai 4 ruangan khusus dimana digelar sejumlah benda-benda seni purbakala dan modern yang menunjukkan tingkat peradaban Bangsa Cina yang termasyur. Di situ antara lain dipajang sejarah peradaban China mulai dari seni keramik, lukisan cat air, kaligrafi huruf-huruf Mandarin mulai yang klasik hingga kontemporer, batu giok (jade), sutra, cap (seal) penanda otoritas kekuasaan atau privilese tertentu, mata uang, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Gedung Museum Shanghai dalam

Butuh sehari penuh untuk bisa menikmati koleksi benda-benda sejarah peradaban China di Museum Shanghai ini.

Yang lebih menyenangkan lagi, di setiap lantai tersedia fasilitas bangku tempat duduk manakala kaki sudah penat menyisir sudut-sudut galeri. Di pojokan gedung di setiap lantai tersedia fasilitas WC yang bersih dan wangi.  Tentu saja, setiap ruangan terasa sejuk oleh hawa AC yang konstan menyala tanpa henti.

Lazimnya setiap museum, rokok dilarang keras di area ini. Namun, orang boleh makan-minum sesuka hati di luar galeri sembari duduk-duduk di bangku-bangku di luaran galeri. Kantin juga tersedia di lantai 1 museum ini.

Melukis secara detil

Saya selama lebih 30 menit menyisir galeri khusus berisi koleksi lukisan-lukisan cat air karya para seniman China. Yang menakjubkan adalah lukisan-lukisan cat air itu digambar secara detil, lengkap dengan ekspresi wajah dan tekstur lanskap panorama alam yang berada di belakangnya.

Kalau lukisan itu formatnya besar, tentu saja para seniman lukis ini dengan lebih mudah bisa melakukannya. Tapi di China –seperti yang kami saksikan di Museum Shanghai ini— lukisan-lukisan itu boleh disebut ‘mini’ karena formatnya kecil. Tak jarang hanya sebesar kertas folio A3 atau A4.

Alam panoramaNamun jangan ditanya kualitas seni  lukisan-lukisan cat air ini. Detil, menawan, sangat representatif dengan wajah manusia-manusia China era pemerintahan monarkhi.  Orang-orang China dulu digambar lengkap dengan rumbai-rumbai aneka atribut pakaian kerajaan, rambutnya digelung dan diikat dengan tali ke belakang namun ‘memandang’ ke puncak, wajahnya menujukkan kearifan dan kebijakan lazimnya para penasehat dan filosof China pada waktu itu.

Panorama alam dilukis dengan sangat detil.  Sulur-sulur pepohonan seperti bambu terlukis dengan sangat indah dan mendetil. Juga aneka bunga yang bermekaran di musim semi. Gemeriknya air terjun dan aliran sungai tergambar seakan benar-benar alami dan ‘hidup’ serta indah seperti rasanya menyusuri Li River dari Guilin ke Yangshuo di Provinsi Guangxi.

Untunglah kedua teman perempuan seperjalanan saya ini juga menyukai benda-benda seni bernilai sejarah. Shopping hanyalah selingan saja. Manakala ada waktu, ya pergi melihat keramaian manusia di pusat-pusat perbelanjaan. Selebihnya, kami lebih suka menikmati wisata budaya dan melihat sejarah peradaban sebuah bangsa.

Untuk keperluan wisata budaya dan mengenal sejarah peradaban bangsa China, maka Museum Shanghai adalah tempatnya yang paling tepat.

Photo credit: Shanghai Museum di Kompleks People’s Square of Shanghai (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: