10 Hari di China: Qianmen Street, Jalan Kenangan dan Wisata Malam (23)

< ![endif]-->

BERUNTUNGLAH saya dan dua teman seperjalanan akhirnya bisa mendapatkan tempat penginapan di sebuah hostel kelas backpacker di Jl. Tieshu Xiejie. Lokasinya  boleh dibilang hanya ‘selemparan batu’ dari Stasiun Subway Qianmen. Untuk mencapai stasiun subway di salah satu sisi pojok Lapangan Tiananmen ini, saya hanya butuh jalan kurang lebih 15 menit saja.

Menyusuri lorong-lorong kecil di sepanjang Jalan Tieshu Xiejie ini rasanya seperti menyusuri sejarah masa lampau permukiman tradisional China era pemerintahan monarki (kekaisaran). Meski mobil dan motor listrik sudah bersliweran di sana-sini, namun tak jarang saya bisa melihat bagaimana turis-turis asing dan lokal memanfaatkan jasa moda transportasi dengan tenaga manusia: becak manusia khas Beijing yakni rigshaw.

Di ujung gang  Tieshu Xiejie yang kemudian berakhir di jalan bernama Dazhalan Xiejie ini ada kawasan wisata malam yang luar biasa. Namanya Qianmen Street sesuai buku panduan wisata lokal.

Qianmen Street bulevar malam hari email ok

Arsitektur kuno

Model bangunan-bangunan di sepanjang Qianmen Street ini dibuat serba eksotik. Sengaja didesain ulang layaknya permukiman kuno era monarki. Arsitektur kuno menjadi daya tarik tersendiri sepanjang menyusuri Qianmen Street ini. Belum lagi sejumlah toko-toko tradisional khas China juga eksis di sepanjang jalan ini.

Konon, kata seorang teman Indonesia yang sudah lama tinggal di Beijing, kawasan permukiman di Qianmen Street ini dulu-dulunya merupakan areal pertokoan. Bukan sembarang areal jualan, melainkan di sinilah keluarga kekaisaran suka berbelanja. Atau, ketika hari sudah mulai petang, keluarga kaisar biasa suka melakukan siren-siren (walking-walking, kata orang begitu!) sembari sesekali berhenti menikmati aneka macam makanan jajanan di sini.

Tentu saja, teh serba nikmat dan istimewa juga harus tersaji di Qianmen Street ini.

Wisata malam hari

Qianmen Street baru memperlihatkan pesona kecantikannya justru pada malam hari. Kalau siang hari, jalanan ini tetap saja tidak pernah lengang oleh para pejalan kaki. Namun, gedung-gedung indah baru akan terasa bersinar megah dan terang justru pada malam hari.

Pertokoan dengan aneka lampu hias email ok

Hari pertama, kami bertiga bersama seorang bruder Indonesia keluar menyusuri Qianmen Street ini pada pukul 19.00 malam. Namun karena musim panas, hari itu masih saja terang oleh sinar matahari. Baru ketika hari sudah mulai menunjukkan pukul 20.00, derap gegap gempita Qianmen Street baru mulai on.

Atmosfir pelesiran khas malam hari mulai terasa di sini. Toko-toko mulai memamerkan koleksi jajanannya termasuk aneka jenis suvenir berkelas: kain sutra. Di gang-gang kecil, aneka jenis kuliner khas China mulai yang modern sampai yang ekstrim tersedia di sini. Serba lengkap dan murah untuk ukuran Beijing.

Mata saya terfokus pada aneka lampu hias yang menerangi gedung-gedung pertokoan di sepanjang ‘bulevar’ Qianmen Street. Jalan lumayan besar ini tertutup untuk semua moda transportasi darat, kecuali dua jenis trem yang pada waktu tertentu melintasi kawasan ini. Mobil patroli polisi sudah barang tentu boleh melintasi kawasan ini.

Aman dan bersih

Meski jalanan ini berjejal dengan ribuan orang dari segala penjuru China, namun rasa aman dan tenang tetap terjaga di kawasan pelesiran khas malam ini. Lantaran dimana-mana ada petugas kepolisian baik yang berseragam maupun yang berpakaian preman. Sekali waktu, saya melihat pedagang asongan berteriak-teriak karena digaruk oleh dua intel polisi berbadan kekar.

Rupanya, pedagang asongan dilarang berjualan di sepanjang jalan kenangan ini agar kebersihan dan keamanan para turis lokal dan asing tetap terjaga. Di kawasan ini banyak tersaji aneka jajanan pasar khas China yang dijual dengan harga sangat wajar, kebersihan tetap terpelihara dengan banyaknya petugas kebersihan lalu lalang memunguti sampah-sampah yang tercecer di jalanan.

Kemeriahan Qianmen Street tentu saja ada batasnya. Itu karena mulai pukul 23.00 malam gerbang utama yang menjadi akses utama kawasan pedestrian ini mulai ditutup. Sekali waktu, usai bertandang ke apartemen bruder di kawasan Bagou sedikit di luar pusat kota Beijing, kami bertiga harus berburu dengan waktu.

Gedung pertokoan 2

Itu karena dalam beberapa menit, pintu gerbang kawasan Qianmen Street sudah akan ditutup rapat. Saya tak tahu harus bagaimana kalau sampai terjadi pintu gerbang itu benar-benar ditutup, sementara kami masih di ruas jalan dari satu titik di Qianmen menuju satu titik lainnya di Jalan Tieshu Xiejie.

Untunglah, malam itu jam rasanya berjalan agak perlahan sehingga ketika kami bertiga sampai di ujung jalan Tieshu Xiejie, pintu gerbang itu masih terbuka lebar. Sementara jauh di belakang sana, pintu gerbang menuju Qianmen arah Tiananmen sudah tertutup rapat.

Photo credit: Suasana Jalan Kenangan dan Kawasan Wisata Malam di Qianmen Street yang berlokasi tak jauh dari Tiananmen Square, Beijing (Mathias Hariyadi)

Tautan:

 

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: