10 Hari di China: Plus-Minus Pakai Guide dan Tur di Beijing (14)

< ![endif]-->

SELAMA suka jalan-jalan  ke luar negeri, saya selalu mengikut irama hati dan tidak mau banyak diatur oleh pihak lain yang dalam hal ini biro travel atau agen jasa guide dan tur. Saya lebih suka berjalan kesana kemari sesuka hati. Tidak perlu harus mengikuti skejul yang telah dibuat, melainkan melihat suasana hari itu enaknya kemana,ya jalan.

Serba fleksibel dan tidak mau rigid dalam urusan mengatur destinasi kemana harus pergi dan naik apa.

Kali ini ke China –karena keterbatasan bahasa Mandarin yang kurang memadai—rekan perempuan saya mengusulkan agar sebaiknya memakai jasa tur dan guide lokal selama di China. Saya setuju. Namun tidak di Shanghai, karena akses kemana-mana bisa ditempuh dengan mudah. Melainkan hanya di Beijing dan itu pun hanya untuk bisa pergi ke Badaling, lokasi Tembok Besar China.

Jauh di luar kota Beijing

Pengalaman pertama mengunjungi Great Wall of China tahun 1999 lalu memberi kesan, lokasi Tembok Besar China di Badaling itu sangat jauh. Dan ya memang jauh, karena butuh waktu setidaknya 1 jam perjalanan dengan mobil meninggalkan pusat kota Beijing menuju Badaling. Untuk jarak tempuh sejauh itu keluar dari pusat kota Beijing, terus-terang saya tak punya data atau gagasan yang lebih jitu selain kemudian harus ‘mengandalkan’ pihak lain menuntun langkah jejak kami ke sana.

Leo tur guide email

Akhirnya, persis sepekan sebelum kami berangkat ke China, kami memutuskan memakai jasa tur lokal di Beijing untuk bisa mengantar kami ke Badaling –lokasi Tembok Besar China yang termasyur itu. Kami pesan sebuah agen biro jasa tur lokal dari Indonesia melalui email dan mereka langsung tanggap cepat merespon keinginan kami.

Ongkosnya sebesar 190 RMB (Yuan) per orang. Paket tur dengan guide bahasa Inggris ini meliputi Great Wall, Summer Palace, Jade Factory, dan Resto Khusus Menu Teh Khas China.

Tepat waktu

Kami tiba di Beijing menjelang sore. Syukurlah menjelang petang ada seorang bruder asal Indonesia datang menemui kami di hostel tempat kami menginap di Beijing selama lima hari ke depan. Bruder itu meminjam HP-nya untuk kami bisa membuat konfirmasi penjemputan di hostel untuk tur keesokan harinya ke Great Wall.

Benar juga, jasa tur lokal ini boleh dibilang profesional. Cepat tanggap dan sangat responsif menjawab pasar. Dia katakan semuanya confirmed dan besok pagi sebelum pukul 07.00 waktu Beijing, seorang agen tur akan datang menjemput kami di hostel.

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun dan sarapan roti gandung tawar dengan madu bawaan dari Indonesia. Sebentar kemudian, kami duduk di lobi hostel menunggu jemputan.

Benar, sebelum pukul 07.00, seorang bernama Leo datang menjemput kami. Ternyata dia guide kami selama tur mengunjungi empat titik destinasi di Beijing sepanjang hari nanti.

Leo tur guide ok email

Cakap tapi tergesa-gesa

Leo memang cakap berbahasa Inggris. Juga tahu banyak mengenai filosofi hidup orang China dan masyarakat lokal di China, termasuk sejarah peradaban bangsa besar ini. Karena bahasa Inggrisnya sangat lanyah, kami pun menikmati berbagai informasi menarik.

Bapak seorang anak itu mengaku berasal dari Harbin yang terkenal dengan julukan Kota Es, jauh di utara Beijing. Bahasa Inggrisnya yang cakap dia dapatkan karena sekolah khusus pariwisata di Beijing. Kata dia, ini kerjaan sambilan saja, karena aslinya dia adalah seorang fotografer.

Kepandaian Leo dalam mengarahkan kami bertiga bersama dua teman seperjalanan dari Belgia dan sebuah kota dekat Shanghai membuat kami terkesan. Setidaknya, Leo berani ngecap karena tahu sejarah. Itu yang menarik.

Jade factory

Namun, lazimnya jasa atau agen tur dimana pun, waktu adalah uang.

Jadi, kami ini benar-benar diperlakukan sebagai turis. Tentu saja dengan sangat  terhormat dan memuaskan juga.

Maka dari itu, selain menuju spot wisata paling hebring di Beijing, maka kami pun dibawa melihat sana-sini dan syukur-syukur bisa diharapkan membeli barang-barang suvenir lokal di spot-spot turis tertentu yang dia kenal. Itulah sebabnya, waktu kami mengunjungi Summer Palace tidak lama. Bahkan tidak ada kesempatan panjang untuk menikmati jembatan yang menghubungi danau indah di Summer Palace ini.

Leo tur guide 2 email

Juga tak ada kesempatan mendaki  Istana Summer Palace atau sekadar duduk-duduk di tepian danau.

Leo langsung mengajak kami mengunjungi sebuah lokasi pengrajin jade. Ternyata tempat yang sama itu pula yang pernah saya kunjungi tahun 1999 lalu, ketika sebagai tamu pemerintah China dalam rangka 50 Tahun Kemerdekaan RRC kami dibawa setidaknya oleh host lokal mengunjungi tempat-tempat ‘penting’ di seluruh Beijing.

Dan pabrik pengrajin jade atau batu giok ini boleh dikata termasuk lokasi ‘penting’ yang harus dikunjungi. Soal beli atau tidak, itu urusan nanti.

Tentu saja, saya tak bisa membeli batu-batu giok dengan harga jutaan bahkan milyaran rupiah ini. Mengagumi saja sudah sangat menghibur tuan rumah dan pemilik toko dan pusat pengrajin jade ini.

Setelah berpuas diri dengan hanya menonton dan menonton koleksi jade, kami makan siang dengan menu model China setengah lengkap. Saya katakan setengah lengkap karena di situ ada banyak piring berisi lauk-pauk.

Saat menjadi tamu pemerintah China tahun 1999 silam, di sebuah restoran besar di Guangzhou dan di tengah Beijing, kami selalu dijamu dengan menu lengkap alias tak kurang dari 6 kali ganti piring dan 6 kali pula perut kita dimanja dengan aneka makan minum.

Teh enak tawar menjadi penutup dari seluruh rangkaian ritual makan dengan menu lengkap itu.

Resto khusus teh

Usai melawat sampai kaki klejotan memanjat tangga-tangga naik di Tembok Besar China, lokasi destinasi terakhir adalah sebuah resto khusus berjualan teh. Kata Leo sang guide itu, “Kalau sudah mencoba minum teh di sini, maka Anda takkan tertarik minum teh lainnya dan teh yang tersaji di sini tidak ditemukan di tempat lain.”

Setelah berbasa-basi seperlunya disertai demo membuat teh dan cara meminumnya, kami pun harus puas diri dengan sebuah ‘kedongkolan’ tertentu: diimbau untuk membeli sejumlah paket teh buatan mereka. Bukan paksaan tapi imbauan.

Rekan seperjalanan kami dari China membeli dua bungkus seharga 300 Yuan. Saya nyaris tertarik membeli botol minuman tapi urung karena tak bisa bawa botol berisi teh.

Akhirnya, sesi minum teh berakhir dengan keputusan: tidak beli apa-apa.

Beberapa menit kemudian, kami pun berpisah dengan Leo yang  mengantar turis Belgia dan warga lokal China ke hotel mereka. Kami pun melanjutkan perjalanan mandiri kami mengitari Bird Nest, stadion Olimpiade Beijing tahun 2008 yang menawan itu.

Itulah plus-minusnya berwisata bersama agen jasa travel atau tur. Dipaksa mengunjungi tempat-tempat yang mungkin bukan menjadi interese kita. Namun di Beijiing, mereka berjasa membawa kami dengan selamat ke Great Wall di Badaling, jauh di luar kota Beijing.

Photo credit: Bersama Leo, guide tour kami ke Summer Palace dan Great Wall China (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: