10 Hari di China: ‘Pasukan’ Payung di Tiananmen Square (20)

< ![endif]-->

SIANG itu benar-benar super panas. Padahal jarum jam baru menunjukkan pukul 10.00 pagi waktu Beijing. Namun, kegerahan di pagi menjelang siang itu membuat kami seperti terpanggang di atas oven raksasa. Butir-butir keringat membasahi wajah kami dan membuat mata saya jadi pedih. Keringat campur cairan sun-screen bercampur baur hingga menetes ke kelopak mata. Perih sekali rasanya. Wajah saya sudah gosong.

Di ujung jalan selepas gerbang gapura besar kedua Qianmen, ya ampun ribuan orang sudah berjejal-jejal di depan mata. Saya jadi kecut nyali, karena di depan mata itu pula hanya ada akses kecil masuk underpass di Stasiun Subway Qianmen untuk kemudian bisa menyeberang ke sisi jalan yang lain menuju Tian An Men Square yang termashyur itu.

Apa boleh buat, mau tidak mau harus rela antre di tengah jejalan ribuan orang itu. Saya sudah halo-halo kepada dua teman perempuan seperjanalan agar jangan sampai ‘pisah kelompok’ dan hilang di tengah kerumunan manusia.

Segera kami bertiga membentuk formasi rapat.

Pakai payung di tengah kerumunan manusia di Tian An Men Square email ok

Memasuki lorong sempit stasiun subway di Qianmen ibarat meniti saluran oven. Serba panas, pengap dan tidak nyaman. Kami pegang erat-erat tas dan semua perlengkapan kami. Paspor bertiga dan sejumlah uang sudah saya simpan rapi di bagian dalam tas cangklong warna merah.

Saya sedikit pasrah, kalau terjadi aksi pencopetan, ya ini namanya sial saja. Maklum saja, di tengah kerumunan ribuan orang itu dan ketika badan dibuat sangat capai oleh terik panas matahari, konsentrasi menjadi sangat lemah.

Untunglah selepas melalui X-Ray pemeriksaan jelang pintu masuk Stasiun Subway Qianmen, lorong menuju underpass mulai longgar. Tapi begitu njedul lagi di jalan raya, di depan mata juga sudah ada ribuan orang.

Sekali lagi, kami harus rela antre memasuki lorong pemeriksaan X-Ray menuju areal maha luas Lapangan Tian An Men. Begitu selesai prosedur check keamanan ini, lega sekali rasanya.

Pasukan’ payung

Saking panas teriknya matahari yang bersinar di atas kepala di Lapangan Tian An Men siang itu, saya nyaris tidak bisa melihat dengan jelas objek-objek pemandangan yang layak difoto. Biasanya saya jeli melihat objek pemotretan. Siang itu –saking teriknya panas matahari—mata saya dibuat sedikit buyar.

Topi kecil dan kacamata hitam tak kuasa menahan kuatnya panas terik matahari.

Syukurlah dua teman perempun saya tak lupa membawa payung. Ini benar-benar menyelamatkan.

Payung sengaja kami bawa, karena China di musim summer tak jarang kena hujan juga. Jadi, payung sedianya dipakai sebagai jaga-jaga kalau tiba-tiba hujan datang menerpa di tengah teriknya panas matahari.

Ribuan orang juga membawa payung. Mereka serasa hepi, karena bisa bertahan lebih lama dalam kepanasan di musim summer berkat payung. Saya agak kelimpungan, lantaran hanya membawa topi dan kacamata hitam.

Tian an men dari seberang email ok

Yang menyelamatkan saya pada siang yang super panas itu hanyalah selalu minum air putih.

Dehidrasi menjadi ancaman paling serius di China dikala musim panas seperti itu. Maklum suhu udara bisa mencapai angka 41-45 Celcius. Maka dari itu, dalam sekejap sangu air minum saya langsung habis.

Tak heran, kalau di tengah kerumunan orang yang berdiri dan duduk-duduk di pelataran maha luas di Tian An Men Square payung-payung berteberan kemana-mana. Langit Tian An Men seperti berselimutkan ribuan payung di bagian daratnya.

Dengan payungnya, orang bisa dibuat  asyik menikmati indahnya Tian An Men di bawah rindangnya  kepakan payung. Kesannya, di Lapangan Tian An Men seperti ada pasukan payung dengan jumlah ribuan orang.

Photo credit: Tian An Men Square di Beijing (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: