10 Hari di China: National Museum of China di Tianamen Square (25)

< ![endif]-->

SESUAI namanya yakni National Museum of China, maka di sebuah gedung megah berlantai empat ini tersaji aneka dokumen sejarah peradaban dan kisah perjuangan politik China. Rentetan panjang kisah sejarah politik China terpajang apik melalui pameran lukisan-lukisan berformat besar dengan tokoh utamanya yakni Ketua Mao Zedong.

Di lantai-lantai atas, terpajang aneka benda-benda seni kuno era pemerintahan monarki (kekaisaran) sampai zaman modern dimana sering terjadi aksi tukar-menukar cindera mata (souvenir) antara para pemimpin China dengan delegasi tingkat tinggi asing yang tengah bertandang ke Ibukota Beijing.

Saya melihat sebuah cindera mata berupa keris corak bali dengan sapuan emas menjadi hadiah Ir. Soekarno kepada PM Zhou Enlai ketika Presiden RI pertama ini berkunjung ke Beijing. Berikutnya adalah sebuah patung penari bali terbuat dari kayu hitam menjadi hadiah cindera mata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika melawat ke China tahun 2005.

Museum of China

Koleksi topeng

Hari itu, fokus perhatian saya justru tertuju pada puluhan jenis topeng dengan ekspresi wajah berbeda-beda yang tersaji dengan sangat bagus di sebuah galeri di lantai 3. Yang saya kagumi dari eksposisi koleksi topeng ini tidak saja kualitas ‘sejarah seni’ topeng itu sendiri, melainkan bagaimana China memposisikan diri sebagai bangsa besar yang bisa menghargai sejarah seni dan peradaban bangsa-bangsa lain.

Topeng sesungguhnya ya hanyalah bahan-bahan ‘rekaan’ terbuat dari kertas, kayu atau bahan plastik untuk sebuah ritual bernama tarian tradisional. Yang tergambar muncul dari topeng lebih merupakan kisah-kisah manusia dalam segala dimensinya: marah, lucu, munafik, murka, jahat, bengis, unik, eksentrik, meringis, tertawa, sedih, dan masih banyak lagi.

Copy of _MG_9021Topeng bagi saya adalah sejarah (peradaban) manusia. Emosi manusia di dalam jiwa dan batinnya bisa tergambar secara visual justru karena manusia berhasil memindahkan ‘gejolak dalam’ itu melalui media seni bernama topeng. Koleksi aneka topeng yang mengisi sebuah galeri di National Museum of China inilah daya tarik rumah kolektor benda-benda seni bernama museum ini.

Pernak-pernik Afrika

Tapi koleksi National Museum of China ini tidak hanya topeng. Melainkan juga aneka benda-benda budaya dan patung-patung seni berbahan dasar kayu dari beberapa negara di Afrika. Saya dibuat takjub, justru mengapa harus di Ibukota Beijing, China benda-benda ‘sejarah seni’ Afrika ini tampil?

Saya tidak menyalahkan negara atau pemerintah darimana benda-benda seni dari Afrika ini berasal. Justru saya salut mengapa pemerintah China menaruh perhatian besar pada koleksi benda-benda seni dari negara lain, sementara di China sendiri ribuan benda-benda seni juga tersebar dimana-mana. Coba tengok di sebuah almari tempat koleksi topeng, maka di situ juga ada sejumlah topeng tarian Jawa, Bali.

Manusia Afrika dengan hasil buruannya

Dengan ini, saya sebenarnya hanya mau mengatakan, China ini terlalu luas untuk kemudian bisa ‘ditaruh’ begitu saja dalam sebuah gedung berupa museum.

Antrian panjang

Di musim panas yang amat gerah di awal bulan Agustus 2013, kami bertiga juga harus rela antri setidaknya 30 menit sebelum akhirnya bisa masuk ke pintu gerbang utama museum. Sebelum ke situ, rombongan antrian ‘dipecah’ menjadi dua arus antrian. Mereka yang warga negara asing harus belok kanan, sementara warga lokal belok kiri.

Tujuannya sama: mengambil tiket masuk dengan hanya menunjukkan paspor atau tanda identitas diri lainnya. Semuanya gratis. Begitu masuk pintu utama, prosedur check keamanan dilakukan: semua barang bawaan harus dipindai dengan X-Ray dan tubuh kita digeledah. Air mineral harus kita minum sedikit untuk memastikan cairan itu bukan asam atau benda berbahaya.

Tidak perlu takut mengikuti prosedur check keamanan ini. Petugasnya masih muda-muda bahkan di antara boleh dibilang gadis-gadis molek rupawan, namun mereka tetap profesional dan serius menjalankan tugas ini. Di lorong-lorong galeri, juga anak-anak muda di bawah umur 27 tahun menjadi semacam pengawas lapangan. Lengkap dengan dasi dan busana sangat rapi.

Elevator

Setiap lantai tersedia elevator untuk bisa naik-turun ke lantai berikutnya. Di setiap lantai juga tersedia WC dan bangku-bangku panjang untuk beristirahat. Saya terbiasa duduk bersila dengan menaikkan kaki di atas bangku. Di situ saya kena tegur petugas: kaki harus turun dan tidak boleh lepas sepatu atau sandal.

Namun, makan-minum tidak dilarang di sepanjang lorong galeri ini.

Sejarah museum

Bangunan megah bernama National Museum of China ini merupakan gedung baru, karena baru rampung dibangun tahun 2003 dengan bantuan arsitek dari Jerman. Gedung baru ini merupakan bangunan baru yang menggabungkan dua unit bangunan terpisah sebelumnya yang eksis sejak tahun 1959 yakni  Museum of the Chinese Revolution di sisi utara dan National Museum of Chinese History di sisi selatan.

Museum of the Chinese Revolution yang mulai dibangun pada tahun 1950-an dulunya berisi rekaman sejarah Revolusi China tahun 1949. Sedangkan National Museum of Chinese History dibangun sejak tahun 1912 berisi artefak-artefak sejarah bangsa China.

Museum of China email ok

Dengan begitu, tak mengherankan kalau selain menggelar pameran sejarah perjuangan politik China dengan tokoh utamanya Ketua Mao, museum besar ini juga memamerkan koleksi budaya dan benda-benda seni China dari era monarki sampai modern.

Koleksi keramik, aneka Kristal juga tersaji di sini.

Saking banyaknya benda-benda sejarah dan aneka memorabilia politik di museum ini, sehari penuh pun rasanya belum cukup untuk menyusuri lorong-lorong galeri museum dengan struktur arsitektur gaya Eropa yang terkesan gagah, perkasa, namun juga sangat anggun.

Photo credit: National Museum of China di Tiananmen Square, Beijing (Mathias Hariyadi)

Tautan:

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: