10 Hari di China: Naik High Speed Train ke Beijing (9)

< ![endif]-->

INILAH pengalaman paling eksotik sekaligus paling istimewa sepanjang tiga kali pernah mengunjungi China: kali ini, saya bisa naik KA Super Cepat atau High Speed Train. Kadang-kadang KA Super Cepat ini sering dimengerti sebagai Bullet Train (kereta kapsul) saking bentuknya nyaris menyerupai ‘peluru’ kapsul.

Awal Agustus 2013 lalu, jalur trayek panjang yang saya tempuh dengan KA High Speed adalah rute Shanghai-Beijing. Jarak Shanghai Hongqiao Railway Station menuju Beijing South Railway Station adalah 1.318 km. Dengan KA High Speed atau lazimnya di China sering  disebut Jinghu High-Speed Railway, jarak itu akan ditempuh dalam kurun waktu kurang lebih  selama 5 jam perjalanan.

Jarak sama rute Shanghai-Beijing  namun dengan noda transportasi KA jenis lainnya  akan menempuh waktu kurang lebih 8-10 jam dan bahkan lebih dari 12 jam perjalanan.

Stasiun-stasiun besar yang akan dilewati trayek KA High Speed ini adalah Nanjing South,  Jinan West, dimana KA ini akan berhenti sebentar tak lebih dari 5 menit untuk menurunkan dan menaikkan penumpang baru.

Tiga kelas

Kami sepakat pergi ke Beijing dengan naik  High Speed Train, mengambil gerbong kelas dua dan harus membayar tiket seharga 553 RMB (Yuan) atau setara dengan Rp 940.100 per orang. Gerbong kelas satu di atas KA High Speed yang sama harganya lebih mahal sedikit yakni  800-an Yuan dan gerbong kelas bisnis di atas 1.000 Yuan.

_MG_7672 Gerbong kelas dua High Speed Train ke Beijing

Tarif harga maupun jadwal High Speed Train rute Shanghai Hongqiao Railway Station-Beijing South Railway Station bisa diakses melalui web ini: http://www.travelchinaguide.com/china-trains/high-speed/

Hingga Agustus 2013, pihak otoritas pengelola sistem transportasi KA di China belum memberi akses kepada calon penumpang bisa membeli tiket secara online. Namun, begitu sampai di China dan tinggal di hotel –semisal di sebuah hostel backpack di pinggiran Shanghai—wisatawan asing bisa dengan bebas membeli tiket aneka jenis KA berbagai jurusan di China melalui hostel.

Hanya saja, jasa layanan ini dikenai charge. Di hostel tempat kami menginap selama di Shanghai, 1 tiket KA High Speed yang dipesan melalui hostel akan dikenai charge kurang lebih 40 Yuan atau setara dengan Rp 68.000.

Kami memilih hunting membeli tiket sendiri di stasiun. Ada dua opsi dimana tiket jarak jauh ini bisa dibeli di Shanghai: Shanghai Central Railway Stasiun atau di Shanghai Hongqiao Railway Station sedikit di luar pusat kota Shanghai.

Kami memilih opsi kedua, karena dari stasiun inilah titik awal keberangkatan KA High Speed trayek Shanghai-Beijing.

Beijingnam

Usai berhasil mendapatkan tiket kelas dua untuk jalur Shanghai-Beijing, mata saya dibuat terbelalak karena di situ tertulis Beijingnam. Padahal, sesuai buku saku perjalanan, stasiun destinasi perjalanan ke Beijing harus berakhir di Beijing’s Southway Railway Station.

Ketika saya tanyakan kenapa di tiket kami tertulis kata “Beijingnam”, petugas peron hanya geleng-geleng kepala karena komunikasi bahasa Inggris saya tidak dia mengerti.

Segera saya kontak rekan di Beijing menanyakan, apakah KA High Speed jalur Shanghai-Beijing ini nantinya akan ‘berlabuh’ di Beijing’s South Railway Station? Jawabannya: ya tentu saja.

Saya menjadi lega sekali, karena sebelumnya dihantui kecemasan jangan-jangan teman wanita saya ini telah salah pesan tiket dan lupa bilang destinasi kami di Beijing adalah South Railway Stasion.

Maklumlah, buku saku perjalanan kami menyebutkan setidaknya ada tiga stasiun besar di Beijing darimana KA High Speed berbagai jurusan dari luar Ibukota RRC ini biasa ‘berlabuh”. Itu antara lain Beijing West Railway Station dan Beijing Central Railway Station.

KA atau pesawat terbang?

Perancis dari Paris ke beberapa kota besar punya TGV. Italia punya Trent Italia. Jalur Paris-Brussel-Amsterdam dilayani KA High Speed Thalys. Semuanya kelas wahid: cepat, tepat waktu dan tentu saja nyaman.

Kini, China bisa membanggakan dirinya dengan High Speed Train._MG_7675 Gerbong kelas dua

Perjalanan saya ke China pertama kali tahun 1999 juga diwarnai dengan naik KA. Namun belum secanggih seperti perjalanan terakhir di bulan Agustus 2013. Waktu tahun 1999, saya menempuh perjalanan panjang dari sebuah kota di Provinsi Guangzhou menuju Wuhan, kota asal akrobat China yang termasyur.

Dibanding KA di Indonesia, saya harus memuji sistem transportasi di atas rel di China ini lebih oke dan nyaman. Waktu tahun 1999 lalu itu saya duduk di bangku kelas dua. Ada sistem kompartemen dan tempat duduk di kabin atas dan bawah. Saya duduk di kabin lantai atas.

Perjalanan kedua ke China dengan destinasi ke Guilin di Provinzi Guanxi tahun 2011 lalu tidak bisa kami lewatkan dengan moda transportasi KA. Justru di Guilin, kami memakai kapal tradisional menuju Yangshuo dan kemudian bersambung dengan bus kota model metro mini ke kawasan wisata alam ini.

Perjalanan ketiga ke China tahun 2013 harus dibuat lebih seru: Naik kereta api.

Mengapa justru naik KA ke Beijing dari Shanghai dan tidak –misalnya—naik pesawat terbang?

Pikiran saya mencoba mencari rationale yang sederhana.

_MG_7662 KA SUPER CEPAT VERO

Untuk naik pesawat terbang di negeri orang, setidaknya 2 jam sebelum terbang sudah harus siap di bandara. Maklum pasti ada sistem checking security yang harus diikuti. Butuh waktu berapa menit atau jam lagi dari hotel ke bandara? Taruhlah itu 1 jam.

Maka untuk bisa naik ke pesawat, kita sudah harus investasi waktu setidaknya 3 jam sebelum akhirnya boarding. Mulai dari bersiap diri, check out dan ambil duit 100 Yuan sebagai jaminan deposit kalau-kalau kunci kamar dihilangkan, lalu kemudian meninggalkan hotel untuk kemudian naik taksi ke bandara. Padahal, posisi lokasi bandara biasanya jauh dari pusat kota. Akan ada biaya ekstra lagi ke Bandara selain harga tiket pesawat.

Nah, China yang kian modern menawarkan solusi hemat dan praktis: naik KA High Speed.

Dari segi waktu jelas jauh lebih efisien, karena stasiun subway akan terhubung dengan stasiun pemberangkatan KA High Speed. Hotel kalau tidak jauh dari stasiun subway jelas merupakan sebuah keberuntungan besar.

Akhirnya setelah melihat data secara lengkap dan detil dimana posisi hotel penginapan kami di Shanghai, maka kami pun mantap memilih bullet train dari Shanghai ke Beijing.

Sekaligus keinginan kami kali ini adalah bisa  mencicipi nyaman dan enaknya KA High Speed ini: Apakah sesuai dengan kualitas tinggi yang dibanggakan oleh negara-negara Barat dengan koleksi TGV, Trent Italia dan Thalys-nya?

300 km per jam

Ternyata, China memang hebat dan perkasa.

Setelah hampir 30 menit menunggu di peron Departure Hall di Shanghai Hongquiao Railway Station, akhirnya kami boleh boarding masuk ke peron di bawah tanah menuju gerbong-gerbong KA High Speed ini. Sejurus kemudian –tepat waktu—KA pun beringsut maju meninggalkan Shanghai menuju Beijing. Dalam waktu kurang dari 15 menit, kecepatan KA ini sudah melaju di atas 200 km/jam dan di menit-menit kemudian melaju pada kecepatan 300 km/jam.

_MG_7677 Papan penunjuk kecepatan 300 km per jamChina yang luar biasa.

Dalam kecepatan tinggi di atas 300 km/jam itu, tidak ada rasa goncangan di dalam gerbong kelas dua. Yang ada hanyalah nyaman, enak dan serba kepenak tur angler. Begitu saya omong bahasa Jawa kepada rekan saya asal Lampung.

Tidak terdengar suara jegleg atau klotak-klotak saat roda-roda KA High Speed ini melindas rel di persambungan-persambungan atau lintas crossing di stasiun-stasiun. Serba senyap dan kedap suara di luaran. Maka dari itu, kami pun menikmati sajian video yang disuguhkan di layar di ujung gerbong. Kali itu, tayangannya kurang mendukung suasana tenang, justru karena ditayangkan film drama thriller bertitel Unstoppable (Train) –kisah lokomotif yang berjalan sendiri tanpa kendali karena kelalaian manusia.

Semua tersaji sempurna

Di dalam gerbong-gerbong KA High Speed ini, jasa layanan makan-minum terlayani dengan sangat-sangat sempurna. Gadis-gadis China yang molek siap menyapa para penumpangnya kalau-kalau ada penumpang yang ingin pesan makan-minum.

Kalau mau jasa layanan self-service –seperti air panas—silakan jalan sebenar ke bordes (ruang persinggungan antar gerbong) maka di situ ada kran berisi air panas. Silakan ambil sesuka hati kapan saja.

Banyak penumpang memanfaatkan jasa penyediaan air panas ini untuk menyeduh sendiri teh, kopi dan mie instant.

Jangan tanya WC nya. Serba bersih dan wangi disertai sistem mekanisme flush yang canggih lazimnya pesawat terbang. Wuzzz maka bablas juga semua kotoran manusia di lobang kloset ini. Yang tercium kemudian adalah wangi bunga melati.

Tepat 5 jam

Kami boarding dari Shanghai Hongqiao pada pukul 09.00 tepat. Sesuai jadwal, KA High Speed kami berhasil tiba selamat di destinasi terakhirnya: Beijing South Railway Station tepat waktu.

Kami segera turun gerbong dan berjalan seiring dengan ratusan penumpang lainnya menyusuri peron arrival di bawah tanah menuju lantai atas. Di situ sudah disambut sejumlah petugas KA dan aparat keamanan yang membantu kami agar jangan salah arah atau berjalan pada jalan yang sesat.

Awas ya, jangan sampai hilang tiket KA High Speed ini.

_MG_7680 Stasiun KA Beijing

Kalau hilang, maka akses kita keluar dari peron stasiun ini tidak akan bisa terbuka. Itu berarti kita harus berurusan dengan operator KA dan bisa jadi juga dengan polisi Beijing karena mereka bisa saja menduga kita adalah penumpang gelap.

Karena itu, selain menyelamatkan tiket, jangan lupa menyimpaan erat-erat  resi pembelian tiket KA High Speed ini sebagai tanda bukti kita telah membeli tiket secara sah dan resmi.

Photo credit: High Speed Train atau di China sering disebut Jinghu High-Speed Railway dalam perjalanan dari Shanghai Hongqiao Railway Station menuju Beijing South Railway Station. Perjalanan menempuh jarak 1.318 km ini bisa dicapai dalam waktu kurang lebih 5 jam. (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: