10 Hari di China: Musibah Koper dan Cari Gantinya di Beijing Zoo Plasa (19)

0
37

SUNGGUH menyiksa kalau dalam sebuah lawatan ke luar negeri, tiba-tiba saja koper bermasalah. Entah karena sobek, gagang penarik koper lepas  atau malah patah. Bisa jadi, masalah seperti ini gampang diatasi di Tanahair. Kalau pun hal ini terjadi di Jakarta, orang bisa dengan mudah membawa koper rusak ini ke Jl. Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat –tempat paling lengkap jualan koper bekas dan lokasi hemat untuk reparasi koper.

Hal itu pernah saya alami juga, ketika sekali waktu koper kami gagangnya patah sepulang dari lawatan ke Vietnam. Setiba di Jakarta, maka koper usang yang masih saya sering pakai ini pun saya bawa ke Jl. Surabaya dan beberapa jam kemudian sudah bisa ditarik kembali dengan ganti gagang koper.

Kalau hal itu terjadi di China, urusannya bisa lain lagi. Selain tidak tahu bahasa Mandarin, kita juga tidak tahu dimana bisa membetulkan koper yang tiba-tiba rusak itu.

Beban terlalu berat

Teman seperjanalan saya mengalami ‘musibah’ koper itu di Shanghai. Pagi-pagi itu, kami bertiga bergegas menuju stasiun subway dari hostel tempat kami menginap beberapa hari sebelumnya. Ketika hendak menuruni anak tangga yang tingginya tidak lebih dari 30cm saja, tiba-tiba gagang penarik koper ini terlepas.

Upaya memperbaiki di tempat tidak berhasil. Malah beberapa per dan gagang lain jadi hilang. Belum lagi, posisi gagang penarik koper menjadi tidak seimbang. Yang satu lebih pendek dari lainnya. Sungguh menyiksa, lantaran koper utama ini beratnya lebih dari 12 kg.

Belanja koper 2 email ok

Namun apa daya, terpaksa kita tarik juga koper ini. ‘Penyiksaan’ fisik terjadi di stasiun subway, karena koper ini harus kita junjung naik ke lantai 3 dari gerbang masuk di lantai bawah. Alamak, juga tidak ada elevator.

Hal sama juga terjadi di stasiun subway berikutnya. Mesti angkat-junjung dari bawah ke lantai 3 secara manual, lantaran tiadanya elevator. Sudah barang tentu, teman perempuan saya ini kelojotan habis enersi dan stres. Ditambah waktu kejar naik high speed train di Shanghai Hongqiao Railway Station menuju Beijing pada pukul 09.00 waktu setempat.

Selamat di tujuan

Akhirnya perjuangan membawa koper bermasalah ini sampai di tujuan kami: Beijing. Dua hari menjelang kami meninggalkan Ibukota China ini, kami menyempatkan diri belanja mencari koper baru di sebuah plasa tak jauh dari Beijing Zoo.

Benar saja, setelah sempat makan-minum di sebuah toserba di samping Beijing Zoo, kami pun menyeberang jalan melalui underpass menuju sebuah plasa di seberang  jalan. Konon, di pasar besar 4 lantai ini, tersedia berbagai macam kebutuhan rumah tangga; termasuk di antara koper dan tas perjalanan.

10 menit kami blusukan menyusuri lantai-lantai pasar besar ini. Di lantai 4 di ujung gang, akhirnya kami temukan deretan para penjual traveling bags dan koper aneka ukuran dan jenis dengan harga sangat kompetitif.

Teman kami memilih koper dengan corak warna cerah. Modelnya seperti  koper-koper zaman sekarang: bisa ditarik di sisi samping. Setelah lama bernego, akhirnya koper cerah ini bisa beralih tangan dengan harga 150 RMB (Yuan). Lumayan murah untuk ukuran orang Indonesia dan tentu saja kuat.

Ibu muda penjual koper ini bahkan berani ‘unjuk gigi’ dengan gagah mengangkangi koper ini. “Lihat, koper ini tidak pecah atau mleyot, sekalipun saya duduki,” tutur ibu dengan postur bongsor ini.

Belanja koper 4 email ok

Tawar 1/3

Rekan kami yang sudah bertahun-tahun tinggal di Beijing sempat memberitahu, jangan ragu main tawar kalau beli sesuatu di China. Umumnya, kata bruder Indonesia ini, mereka pasang harga hampir 3-4 kali lipat dari harga normal. “Jadi, jangan sungkan menawar sampai setidaknya 1/3 dari harga yang mereka pasang di label,” tuturnya.

Soal tawar-menawar ini menarik kita simak.

Tahun 1999 silam ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Beijing, saya pun terkesima dengan harga-harga koper di sebuah jalan di Shalintun di pusat kota Beijing. Merasa diri harga itu cukup murah untuk ukuran Jakarta pada waktu itu, tak tanggung-tanggung  saya pun jadi ‘buta’ diri saking rakusnya membeli koper: sampai tiga biji.

Ampun deh! Waktu itu, saya hanya menawar 25% persen lebih murah dari harga labelnya. Ketika sampai di hotel dan hari berikutnya bertandang ke Wisma Indonesia, cerita belanja koper di pinggiran jalan itu menjadi bahan tertawaan para diplomat KBRI Beijing. Soalnya, harga yang saya beli terlalu mahal.

Alamak. Bahkan alm. Pak Basuki Astar dengan bangganya memperlihatkan sebuah koper besar yang mewah bisa dia beli dengan harga sama yang telah saya bayar di pinggiran jalan.

Kalau pun harus berpuas diri dengan barang-barang yang pernah saya beli di Beijing, saya harus menyebut dua hal: koper-koper warna hijau itu sampai sekarang masih eksis. Juga dua frame kacamata yang hingga saat ini masih saya pakai.

Saya belum mendengar cerita lebih lanjut tentang koper baru yang baru saja dibeli teman perjalanan saya di sebuah plasa di depan Beijing Zoo itu. Kalau dilihat bahannya, lumayan bagus. Semoga saja.

Photo credit: Suasana belanja di sebuah pasar besar di depan Beijing Zoo (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here