10 Hari di China: Menginap di Old Quarter of Beijing (17)

< ![endif]-->

MENGIKUTI gaya dan trend kaum backpackers yang tidak terlalu peduli dimana harus tidur, maka di Beijing pun saya memilih kawasan Old Quarter of Beijing yakni di Hutong. Saya sengaja meminjam istilah ‘Old Quarter’ –sebuah terminoloiy lokasi penginapan murah dan kawasan wisata di Hanoi, Vietnam Utara untuk menyebut Hutong ini.

Jauh-jauh hari sebelum kami tiba di Ibukota Beijing, saya sudah memesan sebuah hostel kelas backpacker. Ini adalah hostel ketiga yang kami pilih, setelah pilihan pertama gagal lantaran baru direnovasi. Oleh web pemesanan hostel berpusat di AS sana, teman perjalanan kami dihubungi melalui telepon minta maaf karena booking-nya tidak bisa dieksekusi karena pekerjaan renovasi gedung hostel tersebut. Padahal, dari beberapa web hostel ini mendapatkan apresiasi bagus.

Situs pemesanan hotel ini kemudian merekomendasikan sebuah opsi lain.Kami melakukan reservasi dan akhirnya oke. Namun persis empat hari sebelum berangkat ke China, satu anggota rombongan mendadak sakit sehingga seluruh rangkaian perjalanan beliau kami batalkan dan proses refund kami segera ajukan.

Hutong Street rigshaw backlight

Mau tak mau kami harus mencari opsi penginapan lain. Dari awalnya dua kamar untuk empat orang, kami akhirnya memilih sebuah dormitory berisi 3-4 orang di sebuah hostel di Hutong –sebuah kawasan yang saya sebut Old Quarter of Beijing ini.

Kawasan wisata di tengah pusat kota

Hutong dulunya adalah kawasan hunian dimana tinggal para pendekar terkenal di Kekaisaran China era pemerintahan Kaisar Qing. Bangunan di sini rata-rata masih menyisakan model arsitektur kuno zaman itu. Jalan-jalan tidak terlalu lebar, persis suasana kehidupan abad lalu dimana akses masuk ini hanya disibukkan oleh lalu-lalang rigshaw –becak khas China yang ditarik oleh tenaga manusia. Meski sempit untuk ukuran masa kini, namun toh gang-gang kecil ini tetap bisa dilalui mobil dan gerobag-gerobag barang.

Nah, hostel tempat menginap kami ada di salah satu gang ini. Cukup megah dan modern untuk ukuran bangunan di kawasan ini. Mirip-mirip  kawasan hostel murah di Jl. Jaksa di Jakarta Pusat atau di Sosrowijayan dekat Malioboro Yogyakarta.

Teman Indonesia yang sudah lama tinggal di Beijing mengaku heran bagaimana kami bisa ‘menemukan’ hostel lumayan murah dan strategis ini di pusat kota Beijing. Tentu saja dari internet.

Hutong street jalanan bermobil

Disebut strategis, karena dari Jl. Tieshu Xiejie di Distrik Xuanwu, kaki kami tidak perlu jalan terlalu jauh untuk menjangkau pusat-pusat wisata dalam kota di Beijing.  Sebut saja Tian’anmen Square, Forbidden City, Liulichang (Antique Market), kawasan bekas areal kedutaan asing, Wang Fu Jing (kawasan pertokoan modern), dan masih banyak lagi.

Biaya menginap kami di sebuah hostel backpacker di kawasan Old Quarter ini adalah 900 RMB (Yuan) pluas  $US20.38 untuk ongkos DP. “Sangat murah dan enaknya strategis sekali mau kemana-mana gampang, termasuk ke Stasiun Subway di Qianmen, persis di ujung depan Tian’an Square dan lokasi Maoseleum Mao Tse Tung,” kata rekan Indonesia di Beijing.

Kalau pun harus menyebut kekurangan lokasi kawasan wisata ini adalah jalan-jalan cenderung kotor.  Begitu pula kamar hostel kami juga tidak bersih, karena selama 5 hari tinggal di situ tak pernah kami lihat sprei atau sarung bantal diganti. Kamar juga tidak dibersihkan.

Ya sudahlah, dari Old Quarter inilah catatan perjalanan kami menyusup sana-sani ke sudut-sudut Beijing bisa dimulai.

Hutong street gang 1

Photo credit: Kawasan permukiman tradisional di pusat kota Beijing (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: