10 Hari di China: Main ke Kedubes RI Beijing (16)

< ![endif]-->

LAYAKNYA seorang warga negara RI yang ‘baik’ dan kebetulan tengah melawat ke luar negeri, saya terbiasa melaporkan diri ke Konjen RI terdekat atau –kalau bisa—ke Kedutaan Besar RI.  Kebiasaan suka melaporkan diri ke perwakilan negara dan pemerintah RI di luar negeri ini saya  lakukan dengan beberapa maksud dan tujuan.

Di antaranya, tentu saja, membina tali silahturami dengan para pejabat KBRI dan para diplomat serta staf lokalnya. Yang biasa saya alami ketika melaporkan diri seperti ini adalah sambutan hangat dan akrab. Saya sebagai ‘tamu’ di negeri asing, merasa hidup di negeri sendiri dengan rekan-rekan sesama warga negara RI di tanah pengasingan dan tentu saja –ini yang menyenangkan—bisa omong bahasa Indonesia dan apalagi ngomong cara Jowo. Ini jelas merupakan sebuah hiburan tersendiri bagi saya.

Yang kedua, respon yang saya dapatkan dari pihak Konjen RI atau Kedubes RI adalah tanggapan yang simpati. Kalau boleh diibaratkan dalam bahasa ibu saya –bahasa Jawa—mereka mengaku diaruhke alias disapa oleh teman sebangsa yang sudi mampir di wilayah otoritas negara dan pemerintah RI di negeri asing ini.

Lalu, ke pihak mana saya biasa melaporkan diri tersebut. Tentu saja, untuk urusan lapor-melapor di Konjen RI atau Kedubes RI di negeri asing ini adalah bagian konsuler.  Sebagai bukti kita sudah lapor, maka di halaman paspor kita akan diberi cap dan tandatangan  kepala konsuler. Wah, jelas membuat halaman-halaman paspor kita semakin banyak ‘hiasan’ cap dan tandatangan pejabat/petugas.

Yang tidak kalah penting adalah antisipasi.

Kedubes RI di Beijing depan

Bagi saya pribadi, urusan lapor-melapor ini  sangat krusial. Saya selalu berpikir antisipatif dan meminimalisir risiko apa pun ketika tengah melawat di luar negeri. Katakanlah, misalnya sampai terjadi apa-apa –seperti paspor hilang jatuh atau kecopetan, mengalami musibah kecelakaan, atau terjebak dalam sebuah kerusuhan politik dalam negeri asing itu—maka setidaknya Konjen atau KBRI sudah memonitor nama kita. Kalau sampai harus minta bantuan, tentu saja pihak Konjen atau KBRI merasa lebih nyaman dan senang membantu kita, karena kita sudah ‘lapor diri’.

Juga memudahkan pihak Konjen RI atau KBRI memantau keberadaan kita agar kalau terjadi sesuatu bisa segera melakukan upaya komunikasi, evakuasi, dan aneka bantuan yang sifatnya emergency.

Libur Lebaran

Selama 2 hari libur besar di Hari Raya Lebaran di Indonesia, saya sengaja tidak mampir dolan ke KBRI di Beijing. Perasaan saya, KBRI pasti libur karena Hari Raya Lebaran. Dan memang benar hari-hari itu KBRI tutup kantor. Namun, kompleks KBRI tetap terbuka untuk sebuah acara open house dimana tersedia aneka makanan dan minuman khas tanah air untuk menyambut para tetamu Indonesia yang berada di Beijing.

Saya dan dua teman perempuan rekan perjalanan memutuskan datang pada hari ketiga pasca liburan Lebaran. Hari itu adalah Sabtu dan tentu saja lazimnya di China juga libur. Namun, keberuntungan berada di pihak kami, karena begitu kami memperlihatkan paspor kami di petugas militer China yang berjaga di portal KBRI Beijing, pintu otomatis segera terbuka untuk kami.

Belum lagi, ketika di balik ruang resepsionis di sisi samping portal Kedubes itu juga ada dua wajah Indonesia yang segera merespon lambaian tangan kami. Melihat baju batik yang kami kenakan, segera mereka tahu kalau kita sama-sama ‘wong kita galo’. “Silakan masuk dan kalau mau foto-foto silakan saja,” tutur staf lokal KBRI bernama Adidin.

Kedubes RI di Beijing depan 2 email“Wah serasa di rumah sendiri,” tutur teman saya, ketika akhirnya kami bisa duduk di bagian depan Kedubes RI persis menghadap dua tiang pancang bendera dimana berkibar Sang Merah Putih dan Bendera ASEAN.

Bekas Wisma Indonesia

Ketika saya berkunjung ke Beijing tahun 1999 silam, kompleks KBRI Beijing yang kami kunjungi awal Agustus 2013 lalu itu masih merupakan Wisma Indonesia. Letak KBRI Beijing bukan di Wisma Indonesia ini, melainkan di Jalan Shalintun, persis di balik kompleks luas Wisma Indonesia ini.

Saya mendatangi Wisma Indonesia tahun 1999 –kini kompleks KBRI Beijing—bersama para seniman-seniwati Indonesia yang menjadi tamu undangan Pemerintah China dalam rangka pesta 50 Tahun Kemerdekaan RRC. Di depan pintu waktu itu sudah berdiri Bapak Letjen (Purn) Kuntara, mantan Danjen Kopassus dan kemudian Pangkostrad. Beberapa nama diplomat dan staf bagian Atase Pertahanan masih saya ingat. Sebagian sudah pindah dan kembali ke Tanahair, sebagian lagi dinas di tempat lain.

Pak Basuki Astar –diplomat senior di KBRI Beijing waktu itu—ternyata sudah lama meninggal dunia. Saya ingat nama beliau, lantaran waktu itu ada anak perempuannya datang dari Indonesia dan kami bertiga lalu pulang ke apartemen beliau. Karena sama-sama berasal dari Klaten, tiba-tiba perasaan menjadi saudara makin kuat.

Sekarang, Wisma Indonesia sudah tidak ada lagi karena gedung yang sama sekarang dipakai menjadi Kedutaan Besar RI. Tentu saja, ini lebih representative karena kompleksnya sangat luas berikut akses jalan besarnya juga lebih oke dibanding dulu gedungnya sedikit ‘tersembunyi’, agak masuk ke dalam kira-kira 250 meter dari portal utama.

Sayang juga waktu kami mampir ke kedutaan, Bapak Dubes Imron Cotan tengah melawat ke Australia. Saya tidak mengenal beliau secara pribadi, tapi ya tahu sejarah beliau: dulu mantan Dubes RI untuk Australia dan  kemudian menjabat sebagai Sekjen Kemlu RI sebelum akhirnya ditugaskan kembali menjadi Dubes RI untuk China.

Kedubes RI Beijing ruang rapat utamaMasuk ruangan kedutaan

Tidak lengkap rasanya berada di Kedubes RI di luar negeri tidak sampai masuk melongok-longok ke dalam gedung KBRI. Di Hanoi, saya pun demikian juga: melongok-longok masuk berkenalan dengan para diplomat kita.

Di Beijing –ketika kantor resmi tutup di hari Sabtu—acara longok-melongok saya lakukan hanya dengan foto-foto saja. Sembari menyelami suasana hangat nan ramah ketika kami berada di ruang pertemuan utama tahun 1999 bersama Bapak Dubes RI waktu itu –Letjen (Purn) Kuntara—dan para stafnya yang menjamu makan malam kami para tamu undangan Pemerintah China.

Lokasinya

Kedutaan Besar RI di Bejing berlokasi di sebuah jalan besar yang tertata rapi pepohonan dan arus lalu lintasnya. Tempatnya berada di Jl. Dong Zhi Men Wai Da Jie  4, Chaoyang District, Beijing 100600. Nomor kontaknya adalah telepon nomor (86-10) 6532-5486, 6532-5488; faksimili nomor (86-10) 6532-5368, 6532-5782 dan emailnya  beijing.kbri@indonesianembassy-china.org

Lihat referensi melalui situs resmi Kemlu RI di:  www.indonesianembassy-china.org/beijing.kemlu.go.id

Kalau kita naik subway, akses menuju Kedubes RI di Beijing bisa kita tempuh dengan naik subway line 10 dan turun di Stasiun Agricultural Exhibition Centre.

Cari Exit Gate C menuju Jl. Dong Zhi Men Wai Da Jie. Begitu keluar dari stasiun bawah tanah dan sampai di peron atas, maka kita harus belok kiri. Maju sedikit akan ada sebuah perempatan jalan besar. Sebuah gedung bangunan sangat besar akan tampak di sisi kanan.

Kita menyeberang jalan besar ini sesuai petunjuk arah lampu traffic light.

IMG_9270 Berdiri di Kedubes RI Beijing emailKita jalani jalan lurus usai menyeberang perempatan dobel ini. Di situlah ada Jl. Dong Zhi Men Wai Dai Jie. Maju kurang lebih 300 meter, maka kompleks Kedubes RI di Beijing akan berlokasi di sisi kiri jalan. Cukup tunjukkan paspor RI kita, maka polisi militer yang berjaga di situ akan siap membukakan pintu bagi Anda.

Photo credit: Kedutaan Besar Indonesia di Beijing, China (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: