10 Hari di China: Kung Fu Street di Lorong Beijing (26)

< ![endif]-->

SETIAP kali saya menyusuri lorong kecil di sebuah gang dari kawasan Qianmen Street menuju lokasi hostel kelas backpacker di Tieshu Xiejie, mata lelah saya langsung dibuat sigrak kembali oleh sebuah pemandangan di jalan yang tidak biasa.  Saya melihat orang asyik bermain kung fu –seni olahraga bela diri paling ngetop di jagad ini yang memang asli berasal dari tanah China.

Silat asli asal Negeri Tiongkok ini memang sudah tenar dimana-mana. Terutama sejak sineas Hong Kong menampilkan aktor laga berdarah campuran China-Amerika Bruce Lee dan kemudian mengangkat serial laga di layar lebar melalui film bertitel  The Big Boss (1971),  Fist of Fury (1972), Way of the Dragon (1972),  Enter the Dragon (1973) dan yang terakhir The Game of Death (1973). Setelah era Bruce Lee berakhir seiring dengan kematiannya yang kontroversial, baru muncul bintang-bintang laga kung fu lainnya seperti Fu Shen, Tien Niu, Lo Lieh, Sammo Hung dan kemudian Jacky Chan serta masa kini: Jet Li dan Donnie Yen.

Sudah barang tentu, industri perfilmam Hong Kong ikut terkerek naik pamornya gara-gara mengangkat kisah-kisah laga dengan bintang-bintang aktor kung fu ini.

Tieshu Xiejie jelas bukan Hong Kong. Ia hanyalah sebuah lorong kecil tak jauh dari Qianmen Street. Namun, derap kehidupan di lorong kecil ini terasa menggigit ketika aneka jenis kegiatan rumahan seperti warteg, jajanan pasar khas China, dan sederetan aktivitas lainnya sudah terjadi sejak matahari masih malu-malu tersembul di ufuk timur.

Juga ketika petang hari mulai berakhir untuk berganti malam. Tieshu Xiejie bukannya makin angslup tenggelam dalam gelapnya malam. Sebaliknya, kawasan ini makin hidup oleh gemerlapnya lampu dan makin ramainya kawasan pertokoan ini memamerkan barang dagangannya.

Kungfu Street 1 email ok

Kung fu street

Yang menarik perhatian mata saya adalah sebuah rumah sederhana dengan dagangan yang juga tidak lumrah: kung fu!

Setiap sore menjelang petang –manakala melewati Jl. Tieshu Xiejie—saya selalu menyaksikan seorang bapak-bapak kira-kira umur 40 tahun-an melakukan gerakan-gerakan kung fu. Tetap mengenakan kaos dan nyaris tidak pernah telanjang dada, bapak yang tidak saya ketahui namanya ini setiap sore selalu berolahraga di depan warung kung fu sekaligus rumahnya.

Memakai double-sticks – sejenis senjata kayu yang menjadi andalan Bruce Lee dalam filmnya Enter the Dragon  bapak ini terlihat sangat piawai memainkan ayunan dua batang kayu sepanjang hampir 30 cm yang terhubung dengan sebuah rantai ini. Sejenak memandang, saya langsung terkesan oleh sebuah gaya permainan olahraga yang tidak pernah saya lihat dengan mata kepala sendiri: bermain-main dengan kecepatan ayunan batang kayu dan fleksibilitas tubuh.

Bermain double sticks dan kemudian menggunakannya sebagai senjata –seperti yang dilakukan aktor Bruce Lee dalam film-filmnya dulu—adalah persoalan bagaimana bisa mengsinkronkan gerakan tubuh yang harus dibuat lentur dengan kecepatan gerakan kedua batang kayu itu. Syaratnya satu: tubuh tidak boleh terkena sabetan kayu. Juga, jangan sampai rantai yang menghubungkan kedua kayu itu kemudian membelit tubuh.

Itulah kehebatan bapak pendekar kung fu jalanan di Tieshu Xiejie ini. Maka di dalam benak saya lantas tersembul gagasan ingin menulis tentang “Kung Fu Street” di Tieshu Xiejie ini.

Kungfu Street 2 email ok

Bapak ini tidak hanya menawarkan keindahan bermain double sticks. Di warung sekaligus rumahnya yang sederhana itu, dia juga menjual jasa pijat kung fu, urut, totok syaraf, dan semua hal yang berkaitan dengan tata ‘kelola’ tubuh ragawi manusia dengan memakai teknik gelut tradisional khas China yakni kung fu.

Sekali waktu, saya yang dibuat capai fisik karena musim panas yang kelewat gerah ingin masuk ke bilik pijat kung fu ini. Namun, kendala bahasa membuat saya ragu masuk ke bilik kung fu miliknya.

Sepak takraw

Tak sampai 300 meter dari bilik kung fu itu ada juga dua ibu-ibu paruh baya yang membuat saya terpana. Mereka berdua main ‘badminton’ tanpa raket. Yang mereka gunakan sebagai raket penangkis dan penangkap shuttle cock justru kaki mereka. Boleh kanan, boleh juga kiri.

Kita sering menyebutnya sepak takraw. Orang bermain bola namun gayanya seperti main badminton dengan menggunakan kedua kakinya. Setiap gerakan bola segera disambut dengan ayunan kaki. Sepak takraw 1 email ok

Kedua ibu ini tersipu-sipu ketika saya datang mendekati mereka untuk sekedar ambil gambar. Jepretan saya tidak terlalu sempurna karena hari itu sudah petang menjelang malam  dan kegelapan sudah turun di Tieshu Xiejie. Belum lagi suasana back-light makin membuat saya susah melakukan manuver jepretan dari angle pemotretan yang berbeda.

Olahraga murah-meriah di China

Sepanjang menyusuri lorong-lorong di Tieshu Xiejie, kegairahan orang Beijing akan olahraga murah-meriah sangat terasa. Orang-orang tua sudah menyediakan waktu mereka sedari pagi untuk sekedar jalan-jalan kaki. Yang setengah tua dan mudah sudah bergegas menyalakan kompor di pinggiran jalan untuk masak. Rajang-merajang sayuran atau mengayunkan pisau besar mengiris dan mencincang daging termasuk berolahraga juga kan?

Di Summer Palace agak di luaran kota Beijing, orang-orang tua juga rajin melakukan gerak olahraga murah-meriah: stretching kaki, jalan kaki, atau melakukan ayunan gerakan tai chi di seberang telaga. Gerakan tubuh yang mengayun jelas menggambarkan anasir seni kung fu yang termasyur di China.

Dan di lorong kecil di Tieshu Xiejie ini pula, saya bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa seni beladiri khas China bernama kung fu ini memang sangat merakyat. Kung fu sudah  menjadi ‘milik masyarakat’ dan mereka selalu mempraktikkannya lebih sebagai gaya hidup sehat daripada urusan pokrol otot untuk menyerang orang lain.

Di Indonesia, saya yakin  telah sedemikian berkembang paham filosofis yang sudah salah kaprah tentang seni bela diri.  Di sini, orang belajar bela diri bukan sebagai seni mengatur diri dan olah pernafasan, melainkan bela diri dipelajari dan dipakai  sebagai alat untuk membela kehormatan dan keselamatan diri serta –ini yang tidak boleh dilupakan—juga untuk mencelakai orang lain.

Di China seperti yang biasa kita lihat di film-film Hong Kong bersuasana Shaolin’s Temple, para bhiksu Buddhist harus belajar kung fu pertama-tama lebih sebagai metode untuk mengatur diri dan olah pernafasan supaya sehat. Kalau pun akhirnya mereka harus gelut melawan orang lain dengan menggunakan jurus-jurus kung fu, hal ini terjadi lebih sebagai ‘tuntutan situasi’ daripada sebuah keniscayaan ya memang harus begitu.

Bapak berolahraga di Summer Palace email ok

Kung Fu Street di Tieshu Xiejie yang diperagakan bapak anonim itu saya lihat dalam perspektif itu. Ia juga mempraktikkan seni bela diri  kung fu dan memainkan jurus-jurus bermain double sticks karena sebuah kebutuhan pasar dan tuntutan perut: harus makan. Karena itu, rumahnya pun kemudian  disulap semacam menjadi semacam klinik pijat kung fu.

Ya gak masalah juga. Yang pasti, lorong Tieshu Xiejie dibuat menjadi lebih ‘heboh’ berkat Kung Fu Street ini.

Photo credit:

  • Kung Fu Street dan permainan sepak takraw di lorong Jl. Tieshu Xiejie, Beijing (Mathias Hariyadi)
  • Seorang bapak melakukan stretching kaki di sisi Kunming Lake di Summer Palace Beijing (Mathias Hariyadi)

Tautan:

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: