10 Hari di China: Ketua Mao Zedong dan Sejarah China Modern (24)

0
26

PEMIMPIN Besar Tiongkok dan pendiri negara Republik Rakyat China (RRC) adalah Mao Zedong. Zaman saya sekolah di SD dulu, nama tokoh besar ini ditulis sedikit lain: Mao Tse Tung. Saking kharismatisnya tokoh besar ini dalam sejarah politik China modern pasca era pemerintahan monarkial di China, orang lalu menyebutnya dengan julukan Chairman Mao atau Ketua Mao.

Lahir 26 Desember 1893 dan meninggal 9 September 1976 –ketika saya baru kelas 2 SMP—Ketua Mao adalah orang yang dianggap paling berjasa dalam sejarah China modern: pendiri dan bapak bangsa Tiongkok. Untuk menghormatinya, pemerintah China membangun mausoleum megah dimana jasad Ketua Mao yang ‘abadi’ berbaring tidur di balik peti mati berbahan kaca kristal yang sangat mahal.

Ketua Mao lahir dari sebuah keluarga petani kaya di Shaosan di Provinsi Hunan. Sejak muda, ia dikenal anti imperialisme terutama sejak terpengaruh oleh Revolusi Xinhai di tahun 1911 dan May Fourth Movement tahun 1919.

Semula, dia sangat berkawan dengan Chiang Kai Shek –pendiri gerakan nasionalis revolusioner Kuomintang (KMT)– sekalipun pada dasarnya sejak muda ia berkomitmen memilih haluan ideologi komunisme. Belakangan, kongsi politik mereka berdua pecah. Chiang Kai Shek dan para pengikutnya lalu melarikan diri ke Pulau Formusa –kini bernama Taiwan–, sementara Ketua Mao dengan pasukan Tentara Merahnya menjadi semakin berkibar setelah berhasil mendepak tentara imperialis Jepang dari Tiongkok tahun 1945.

Long March

Bukan Ketua Mao namanya kalau sebagai seorang pemimpin politik dan pejuang keras tidak melakukan sesuatu yang ‘revolusioner’ dan berani pada zamannya. Karena kongsi politiknya bersama Chiang Kai Shek pecah, tak ayal  dua teman seperjuangan ini lalu saling bermusuhan. Guna menghindari kejaran pasukan Kuomintang, Ketua Mao  melakukan apa yang sering disebut dengan istilah “Long March”.

Mao berdiskusi dengan rakyat email ok

Perjalanan panjang turun-naik gunung menyusuri lembah-lembah dan pedesaan di seluruh pelosok Tiongkok –namanya Long March—ini berlangsung pada kurun waktu Oktober 1934 hingga tahun 1935. Perjalanan ‘mundur teratur’ meninggalkan medan pertempuran ini dimulai dari Hunan. Ikut bersama Ketua Mao sedikitnya 87 ribu pasukan Tentara Merah yang ikut pergi membawa serta seluruh peralatan kerja mereka seperti mesin ketik, perabotan rumah tangga dan mesin cetak. Tentu juga tak lupa membawa persenjataan dan amunisi.

Butuh 40 hari lamanya arus massa perjuangan ini bisa menembus titik-titik blokade razia pasukan Kuomintang pimpinan Chiang Kai Sek. Sayangnya, di Xiang pasukan ini diserang oleh tentara Kuomintang hingga menderita banyak korban sebanyak kurang lebih 45 ribu tentara. Sejak kejadian tragis ini, penasehat militer Jerman bernama Braun dilengserkan dan komando utama Tentara Merah sepenuhnya ada di bawah kendali Ketua Mao.

Syukurlah, di sisi Ketua Mao ada  Zhu De, seorang ahli strategi. Mereka berdua memecah pasukan dalam bentuk unit-unit kecil guna menghindari serangan frontal tapi mampu membuat serangan balik secara tak terduga. Mereka berdua menyasar  Provinsi Shaanxi di wilayah bagian utara Tiongkok sebagai target penguasaan mereka. Namun, jalan menuju Shaanxi sangat tidak mudah: naik-turun gunung, menyeberangi sungai, dan harus mampu bertahan dalam cuaca dingin di kawasan daratan paling tinggi di China serta melintasi the Chinese Grassland yang kering kerontang.

Mao berdiskusi dengan kaum muda email ok

Di akhir perjalanan “Long March” di Yanan pada Oktober 1935, jumlah pasukan Tentara Merah yang masih bertahan bisa hidup tidak lebih dari 10 ribu orang.  Total jenderal, pasukan yang tewas dan  mati dalam perjalanan sebanyak 77 ribu orang. Jarak tempuh perjalanan panjang ini tak kurang 9.000 km dan makan waktu selama 368 hari –setahun lebih sedikit.

Long March adalah kisah heroik Ketua Mao.

Great Leap Foward

Manuver sosial-politik yang sering disebut Gerakan Lompatan Besar ke Depan adalah kisah lain Ketua Mao yang layak kita ketahui. Segera setelah memproklamirkan berdirinya Republik Rakyat China (RRC) tahun 1949, Ketua Mao yang berhaluan komunis ini dengan sangat tegas memberangus semua anasir dan para pihak yang disebutnya ‘kontra-revolusi’.

Ketua Mao lalu menerapkan land-reform, menenggelamkan figur-figur ‘preman politik’ yang berkuasa di daerah-daerah tanpa ampun, membagi-bagikan harta kekayaan mereka kepada rakyat yang hidup di sentra-sentra permukiman penduduk (komune). Intinya, Ketua Mao ingin memodernisasi China melalui penataan kembali sektor agraria dan industri.

Mao proklamasi email ok

Namun, langkah ini boleh dibilang tidak terlalu sukses. Kelaparan besar justru menimpa rakyat Tiongkok sepanjang berlangsung projek Lompatan Besar ke Depan ini kurun waktu 1958-1961.

Revolusi Kebudayan

Tahun 1966, Ketua Mao menggulirkan program baru lagi yang tidak kalah populernya yakni Revolusi Kebudayaan.

Memasang slogan politik berbunyi “”Destroy the old world. Forge the new world”, gerakan sosial-politik berjuluk Cultural Revolution dimulai dengan mengikuti siklus teori ‘tesis-antitesis” dan kemudian mewujudkan konsep itu dalam praksis sesuai ajaran Karl Marx. Ketua Mao bermimpi ingin menciptakan tatanan sosial baru guna membongkar kemapanan kaum borjuis China dan kemudian menggantikannya dengan masyarakat sosialis.

Melalui kelompok Red Guards yang terdiri dari anak-anak muda, Ketua Mao memproklamirkan Revolusi Kebudayaan yang dahsyat itu. Korbannya banyak, termasuk filosof terkenal China saat itu yakni Chen Yuen. Para akademisi yang hidup mapan di kota-kota besar disuruh pindah ke pedesaan dan menjadi petani. Kisah sengsara era Cultural Revolution itu bisa tergambar dengan apik dalam film bertitel To Live, The Blue Kite dan tentu saja yang terkenal Farewell My Concubine.

Sayang sekali, ketiga film Mandarin itu belum saya tonton sampai sekarang dan sebaiknya segera saya cari. Saya melihat kisah sejarah modern Tiongkok itu melalui pajangan benda-benda seni berkualitas tinggi di National Museum of China di depan Tiananmen Square.

National Museum of China

Di lantai dasar gedung museum yang sangat megah ini, sejarah Tiongkok pasca era kekuasaan monarki terpusat pada diri sang Ketua Mao.

Saya terkesan melihat wajah Ketua Mao waktu muda dalam sebuah lukisan cat minyak ukuran besar yang sangat indah. Ekspresi wajah Ketua Mao benar-benar memancar kuat dari pesona kharismanya yang menawan. Juga suasana Long March yang heroik, termasuk Great Leap Forward.

Karena dianggap media Barat sebagai era yang kurang bagus, saya tidak atau mungkin malah kelewatan tak bisa menyaksikan lukisan yang menunjukkan suasana Revolusi Kebudayaan. Konon, program penataan sosial politik ini berjalan hingga tahun 1976, persis ketika Ketua Mao meninggal dunia karena serangan jantung.

Sejarah China modern dengan fokus Ketua Mao tersaji dengan apik dan menarik di National Museum of China yang modern dan megah. Butuh satu hari penuh untuk menyusuri lorong-lorong galeri museum ini. Kalau lantai-lantai lainnya lebih memamerkan benda-benda seni, maka lantai dasar adalah eksibisi tentang sejarah politik Tiongkok.

Dan itu tak lain adalah kisah Ketua Mao yang termashyur di China sampai sekarang.

Mao dan aneka rakyat China email ok

Photo credit: Koleksi lukisan perjuangan Ketua Mao di National Museum of China, Tiananmen Square, Beijing (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here