10 Hari di China: Forbidden City yang Agung (29)

< ![endif]-->

MARI kita bahas terlebih dahulu mengapa namanya Forbidden City atau Kota Terlarang? Tentu ini bukan sekedar nama, melainkan pasti ada sejarah panjang di balik nama atau julukan yang terkesan aneh untuk mereka yang pertama kali mendengarnya.

Forbidden City atau Kota Terlarang termasuk cagar budaya UNESCO. Ini adalah satu lembaga/badan PBB yang sangat berkepentingan melestarikan lokasi atau tempat cagar budaya di seluruh dunia. Maka dari itu, UNESCO pun sangat berkepentingan menjaga agar Forbidden City atau Kota Terlarang  ini tetap terjaga ‘wajah aslinya’  dan jangan sampai mengalami kerusakan karena ulah tangan-tangan jahil manusia.

Tiga nama

Kita urai satu per satu tiga jenis nama/julukan yang biasa dipakai orang untuk menamai kawasan cagar budaya kelas dunia dan paling populer di Beijing ini.

·         The Palace Museum

Disebut museum, karena inilah kompleks museum dalam arti yang sebenar-benarnya karena memang di sinilah berada museum tentang sejarah pemerintahan monarki berbentuk kekaisaran di NegeriTiongkok. Kurun waktunya juga bukan sebentar, melainkan selama 500 tahun. Jadi, kompleks ini benar-benar merupakan ‘museum hidup’ karena di situ dulu berlangsung sejarah kehidupan sosial, sistem politik, hukum lokal Tiongkok dan aneka peristiwa politik yang mewarnai kehidupan sosial-politik di Tiongkok selama 500 tahun.

Forbidden City pintu masuk meridien gate

Selama kurun waktu 5 abad itulah, tercatat resmi ada sebanyak 24 kaisar China pernah tinggal menetap di The Palace Museum ini. Para kaisar ini tentu saja tinggal bersama dengan semua anggota keluarga istana: permasuri, putera mahkota dan anak-anak lain, para selir, para penasehat kerajaan, para panglima militer dan komandan-komandan lapangan.

·         Imperial Palace

Nama ini mengacu pada kawasan permukiman para bangsawan kekaisaran.Imperial Palace adalah tempat dimana Kaisar China bersama seluruh keluarga besar dan para pembantu dekat serta para panglima militernya tinggal.

·   Forbidden City/Palace atau Kota/Istana Terlarang (Zijin Cheng)

Bagaimana latar belakang sejarah hingga bisa sampai muncul kata ‘terlarang’ untuk menyebut kompleks kediaman Kaisar China ini?

Tentu saja, munculnya kata ini mengacu pada aturan umum yang berlaku pada masa pemerintahan monarki (kekaisaran) saat itu dimana hanya keluarga kaisar saja yang boleh tinggal di lingkaran dalam Istana.Yang lain-lain harus tinggal di luar Istana.

Sama seperti konsep kekuasaan di Jawa dimana hanya saja bersama keluarga dekatnya boleh tinggal di Istana sementara yang lain-lain harus tinggal di luar Istana, demikian pula yang terjadi di China juga sama. Di situ lalu muncul istilah ‘jeron benteng’ (permukiman di dalam lingkaran perlindungan tembok keliling alias benteng) dan ‘jobo benteng’ yang mengacu pada permukiman di luarl ingkaran benteng.

Dalam bahasa Mandarin, Kota Terlarang disebut Zijin Cheng.

Forbidden City China from the sky by Historical Guide of China

Kata “Zi” mengacu pada North Star yang menurut astrologi kunaTiongkok disebut Ziwei Star atau dalam astrologi China modern menjadi Celestial Emperor. Kata Mandarin “jin” yang berarti terlarang mengacu pada izin harus diberikan langsung oleh Kaisar untuk siapa pun yang ingin masuk kawasan terbatas ini. Jadi kawasan ini  terlarang untuk orang lain, kecuali warga kaisar. Sedangkan kata “cheng” berarti kawasan yang terlindungi oleh ‘benteng’ berupa tembok-tembok tinggi yang berdiri sekeliling kawasan terbatas ini.

Tersesat di jalan

Di kancah pergaulan wisata internasional, justru nama urutan ketiga ini yang kini makin populer. Maka dari itu, ketika saya masuk ke jalan menuju pintu utama Forbidden City, saya sempat dibuat bingung kenapa tidak ada tulisan ‘forbidden city’ atau ‘forbidden palace’? Yang ada di papan-papan petunjuk justu nama kategori pertama yakni ‘the palace museum’.

Forbidden City city map ok

Gara-gara tidak ngeh dengan istilah-istilah di atas, saya juga lupa membeli tiket masuk ke kompleks Forbidden City. Baru sesaat menjelang ditagih tiketnya, saya terperanjat ketika ternyata loket-loket pembelian tiket itu sudah berada 400 meter di belakang jejak kaki saya. Padahal, saat itu kaki saya sudah mengarah ke entrance gate untuk pengecekan tiket. Mau tidak mau ya harus balik arah: beli tiket dulu, baru kemudian boleh masuk Forbidden City.

Northwest_cornor_of_the_Forbidden_City

Photo credit: Suasana The Forbidden City (Kota Terlarang) dari berbagai sudut pengambilan (Travel Guide of China, Historical Guide of China, Mathias Hariyadi)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.