10 Hari di China: Batu Giok dan Filsafat Keluarga China (27)

GIOK adalah nama Mandarin untuk satu jenis bebatuan berharga. Batu giok atau dalam bahasa Inggris disebut jade adalah sebuah legenda besar di seluruh Negeri Tiongkok. Bukan saja karena jenis precious stones ini mahal harganya dan jumlah persediaannya juga makin sedikit. Lebih dari itu, dari batu giok ini pula tersimpan sejarah panjang tentang filosofi hidup bersama […]

GIOK adalah nama Mandarin untuk satu jenis bebatuan berharga. Batu giok atau dalam bahasa Inggris disebut jade adalah sebuah legenda besar di seluruh Negeri Tiongkok. Bukan saja karena jenis precious stones ini mahal harganya dan jumlah persediaannya juga makin sedikit. Lebih dari itu, dari batu giok ini pula tersimpan sejarah panjang tentang filosofi hidup bersama dan tatanan sosial di China. Tentu saja lengkap dengan tatanan nilai sosial di unit kelompok kekeberatan terkecil yakni keluarga China. Sedikit banyak tentang hal ini bisa terkuak dari giok atau jade.

Simbol kemapanan dan penolak bala

Di China, giok tidak hanya sekedar merupakan bentuk hiasan rumah terbuat dari bebatuan berharga. Namun, giok atau jade juga menjadi semacam simbol sosial. Dengan memiliki aneka giok berbagai rupa –mulai dari yang paling kecil sampai ukuran besar dengan tingkat ukiran yang makin njlimet dan rapi—maka semakin jelas pula, sang pemilik giok atau jade ini berasal dari golongan berduit dan mapan.

Namun dengan giok atau jade itu pula, kita bisa menelisik bagaimana orang-orang China ‘tradisional’ memahami konsep hidup sosial dan sistem ‘religi’ mereka.

Giok jade3 email ok

Kata orang di China yang saya dengar selama blusukan di Shanghai dan Beijing selama 10 hari di awal Agustus 2013 lalu, giok atau jade adalah simbol keberuntungan. Tidak saja karena dengan memiliki giok, maka kita akan menjadi terpandang derajad sosial di masyarakat. Jadi, giok membawa keberuntungan bisa mengangkat derajad sosial kita. Singkat kata, pamor sosial kita menjadi naik berkat giok.

Tapi ternyata, giok pun juga dipasang di mobil-mobil pribadi. Entah dalam wujud seperti tasbih atau pendant (leontin) yang bisa dicantelkan di pengait khusus di belakang kaca wind-screen di mobil. Kata orang, dengan memasang giok di dashboard mobil, maka keberuntungan di jalan raya akan menjadi milik kita. Sama seperti orang suka memasang atau menaruh kumparan wujud tertentu sebagai ‘penolak bala’ di mobil, pun pula orang-orang China baik yang tradisional maupun modern juga suka menaruh giok-nya di mobil.

Tentu saja dalam ukuran proporsional khusus yang enak dipasang di dashboard atau belakang wind-screen mobil. Kalau di rumah, maka yang terpajang adalah giok-giok ukuran besar atau bahkan ‘jumbo’ dan ini tentu saja nilai bisa mencapai puluhan bahkan ratusan milyar rupiah atau malah dolar Amerika.

Filosofi hidup keluarga

Orang-orang China suka memakai kalung. Tidak hanya kalung rantai dari emas, melainkan juga mengalungkan bandul giok di leher mereka. Kadang bandul kalung terbuat dari batu giok ini berukuran besar seperti yang biasa tampak pada film-film Shaolin Temple dimana para tetua bhiksu suka memakai bandul kalung giok ukuran besar.

Kata orang, di dalam bandul giok besar itu terukir nama orang si pemakai.

Mengapa ditulis di situ? Itu sebagai penanda bahwa si pemakai dengan nama tertentu itu punya sejarah panjang dalam hidupnya. Terutama kalau kita ingin melihat posisi sosial yang bersangkutan di dalam seluruh jaringan silsilah kekeluargaan (wangsa) yang bersangkutan.

Katakanlah nama saya adalah Fang She Yu.

Fang adalah nama wangsa keluarga besar saya dimana saya berasal dan dilahirkan. Marga Fang sengaja ditaruh di depan, justru karena filosofi hidup orang-orang China sangat menghormati leluhur dan keluarga. “Segala sesuatu akan selalu berpulang dan kembali kepada keluarga besarnya,” tutur Leo, pemandu wisata kami.

Itulah sebabnya pula, marga lelaki menjadi sangat sentral dalam sistem kekeberatan orang China. Anak lelaki adalah penerus generasi keluarga. Marga saya ‘Fang’ akan berlanjut terus oleh keturunan anak-anak lelaki saya. Marga ‘Fang’ yang melekat pada keturunan anak perempuan saya akan ‘hilang’, begitu anak perempuan saya dipersunting pria dari marga lain.

Kata kedua “She” yang berdiri di tengah menunjukkan di garis silsilah keluarga ke berapa saya ini berada. Jadi, semua keturunan bermarga Fang akan tahu masing-masing ada di garis urutan silsilah ke berapa dalam jali-jemali silsilah wangsa keluarga.

Kata ketiga atau terakhir “Yu” adalah nama pemberian orangtua.

Nah, ketiga suku kata nama itu terukir rapi dalam sebuah batu giok yang biasa dikalungkan pada leher orang-orang China tradisional. Konon, batu giok ini baru boleh ‘lengser’ dari leher si pemakainya, kalau yang bersangkutan meninggal dunia. Dan giok itu pula juga ikut dikubur bersama pemiliknya.

Seni ukir

Tentang seni ukir dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit di atas permukaan batu giok atau jade, inilah kisahnya. Kita mulai dari pertanyaan paling gampang namun juga paling banyak dilontarkan orang ketika pertama kalinya bersentuhan dengan seni pahat ukir batu giok.

Mengapa seni pahat ukir batu giok (jade) ini sepertinya terkesan hanya eksis dan berkembang di China?

Dijawab: itu benar sekali.

Lalu mengapa begitu? Jawaban lanjutannya, itu karena seni tradisi pahat dan ukir batu giok pada dasarnya merupakan ketrampilan keluarga yang diwariskan secara turun-temurun. Jadi, proses pewarisan kemahiran dan ketrampilan (skill) khusus ini tidak terjadi dalam lingkup sosial bernama kursus atau sekolah, melainkan di dalam ‘industri rumah tangga’. Maka tak heran, kalau resep-resep masakan seperti dingsum atau mie seringkali berbeda-beda tergantung di keluarga mana resep khusus kuliner ini dikembangkan dan kemudian diwariskan.

Pengrajin giok 2

Soal seni pahat dan ukir batu giok juga mengikuti ‘hukum alam’ itu: terpelihara hanya di dalam keluarga dan kemudian diwariskan secara turun-temurun hanya di dalam keluarga itu sendiri. Orang lain takkan bisa tahu dan bahkan meniru pun juga takkan berhasil.

Itulah sebabnya, giok memiliki sejarah tradisi yang sangat panjang dalam sistem sosial dan sistem pewarisan nilai serta ketrampilan di China. Kini, setelah ribuan tahun berlalu, maka jumlah ketersediaan batu giok semakin sedikit karena bebatuan ini merupakan hasil proses kimiawi ribuan tahun di dalam tanah dimana kristal-kristal menjadi padat oleh proses geofisis di dalam tanah.

Keluarga pengrajin giok email ok

Persediaan makin tipis. Jumlah para pengrajin seni pahat dan ukir batu giok pun juga semakin sedikit, lantaran banyak anak-anak muda China modern tidak tertarik lagi menjadi artisan (seniman rumahan) yang berjam-jamnya lamanya duduk menekuni proses pahat dan ukir di atas permukaan giok. Mereka lebih suka kerja kantoran dengan gaji besar atau malah menjadi pengusaha. Maka, giok pun ditinggalkan.

Persediaan makin tipis ditambah seniman giok makin berkurang, maka tak ayal lagi giok pun melambung harganya di pasaran. Bisa mencapai angka ratusan juta dan bahkan ratusan milyar. Jadi, ketika kami dibawa pemandu wisata mengunjungi sebuah pabrik giok di pinggiran Beijing, maka saya dan dua teman saya hanya puas dengan melihat-melihat saja.

Menawar pun tidak berani kami lakukan, begitu price tag-nya menunjukkan angka ratusan dan bahkan ribuan dolar Amerika!

Selain di China, batu giok banyak terdapat di Myanmar (Burma) dan beberapa negara kecil di Amerika Latin seperti Kolombia dan Venezuela.

Hanya gara-gara batu giok saja, saya sedikit tahu mengenai sistem nilai kekeluargaan dan kekeberatan di China. Termasuk tentu saja filosofi kehidupan di balik batu giok itu sendiri.

Photo credit: Suasana tempat kerajinan seni pahat dan ukir batu giok di Beijing (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply