10 Hari di China: Antri Panjang Beli Tiket KA-Bus di Hangzhou (8)

< ![endif]-->

MENGANTRI lama untuk bisa mendapatkan tiket KA di Shanghai merupakan satu pengalaman traveling yang layak dibagi kepada penikmat wisata ala backpacker. Banyak suka-dukanya berdiri berlama-lama menunggu giliran antri hingga akhirnya bisa berdiri di muka loket.

Di Shanghai Hongqiao Railway Station yang megah, antrian panjang juga terjadi di sudut-sudut loket pembelian tiket KA jalur jarak jauh. Entah mengapa, tiba-tiba kami didekati oleh seorang perempuan paruh baya yang menawarkan jasa tour seharga 130 Yuan  ke Hangzhou.

Tawaran itu jelas memikat, setidaknya karena kami tidak ada gambaran sama sekali tentang profil kota Hangzhou. Maka dari itu, sapaan hangat itu kami sambut dengan gembira.

Tulis data di secarik kertas

Untunglah, berkat ibu penjual jasa tour lokal di Hangzhou ini, kami bisa ‘keluar barisan’ antrian yang panjang menuju loket khusus.

Ibu itu hanya bilang, kalian boleh antri di sini. Tentu dalam bahasa Mandarin yang hanya dimengerti oleh salah satu anggota rombongan tour ala backpacker ini.  Kepada gadis muda penjaga loket tiket, saya serahkan secarik kertas bertuliskan bahasa Inggris untuk pesan tiket KA jarak jauh jurusan Shanghai-Hangzhou dan Shanghai-Beijing.

_MG_7286 Stasiun KA Hongzhou keramaian antri tiket copy

Kartu identitas harus disertakan dalam setiap pembelian tiket KA jarak jauh ini. Tak peduli apakah calon penumpang itu warga lokal RRC atau wisatawan mancanegara seperti kami. Segera kami sodorkan 3 paspor RI kepada gadis yang terkesan  kurang ramah ini.

Ia hanya mencatat nomor paspor kami dan kemudian memberi tanda bahasa tubuh untuk membayar sejumlah RMB (Yuan) sesuai harga tiket.

Hanya butuh tidak lebih 2 menit untuk menyelesaikan transaksi pembelian tiket untuk tiga orang dengan dua jurusan yang berbeda.

Pertama-tama tentulah harus kita tentukan terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut:

·         Trayek KA mana yang ingin kita tuju;

·         Pada pemberangkatan KA pukul berapa  yang ingin kita beli;

·         Kelas gerbong berapa yang ingin kita nikmati;

·         Jenis KA mana yang mau kita pilih.

Poin-poin di atas sebaiknya kita tulis di atas secarik kertas untuk memudahkan operator penjaga loket penjualan tiket mencari informasi di sistem web ticketing mereka. Itu akan memudahkan mereka untuk mencari konfirmasi apakah tiket sesuai harapa kita itu masih ada atau sudah terjual.

Sekedar tambahan info, untuk jalur trayek Shanghai-Hangzhou misalnya, tersedia beberapa jenis KA dari yang super biasa, biasa, ekspres pakai beberapa kali stop, dan ekspres nonstop. Nah, kita mau pilih jenis KA yang mana?

Juga jam keberangkatannya harus jelas, mengingat hampir setiap 1 jam ada KA melintasi jalur trayek Shanghai-Hangzhou.

Antrian sangat panjang

Setelah seharian bermain-main di kawasan Hangzhou, inilah saatnya berburu tiket KA pulang menuju Shanghai. Kami sampai tiba di Stasiun Utama Hangzhou dari Lingyin Temple persis menjelang berkahirnya petang hari.

Sinar matahari masih bersinar garang di Hangzhou, petang itu. Maklumlah, ini musim panas sehingga sinar matahari benar-benar baru akan hilang dari pandangan mata dan berganti dengan cahaya lampu pada malam hari setelah lewat pukul 19.15 waktu setempat.

Saya bergegas menuju peron khusus pembelian loket di lantai dua Stasiun Hangzhou. Alamak…ternyata antrian calon penumpang sudah sangat panjang. Padahal di situ tersedia setidaknya 20 sampai 30 loket penjualan tiket. Namun semuanya penuh sesak disertai antrian panjang.

Tidak ada jalan lain, selain ikut ambyuk dalam antrian panjang itu. Beragam manusia terlihat gontai dalam posisi berdiri mengisi jalur antrian manusia. Lelah karena hawa udaranya sangat panas. Capai psikis karena belum tentu mendapat tiket pulang naik KA menuju Shanghai karena saking melimpahnya calon penumpang.

_MG_7282 Papan jadwal KA di Stasiun Hongzhou copy

Kami sedikit bingung memilih di jalur antrian mana kami harus berdiri ikut mengantri. Kami segera ambil solusi: masing-masing ikut antri di jalur antrian berbeda. Saya lalu pergi ke sudut antrian paling sedikit di ujung lorong peron ini. Ternyata ini loket khusus untuk warga RRC, karena setiap calon penumpang harus menunjukkan kartu identitas khusus. Paspor RI saya tunjukkan dan segera jawabannya: ditolak!

Saya kembali ke jalur antrian lain. Dua teman saya sudah ikut antri di barisan lain lagi.

Persis di belakang tiga orang yang mengantri, tiba-tiba jalur antrian stop. Petugas loket menarik tirai dan memberi kode bertuliskan “Closed. Please wait a moment!”

Keberuntungan tidak berpihak pada teman saya yang sudah antri 45 menit dan kini di ujung pintu loket, tiba-tiba pengumuman tidak mengenakkan itu dipasang. Dia langsung gontai, begitu pula saya dan satu teman lainnya.

_MG_7238 Sesak naik bus di Hangzhou  copy

Bisik-bisik tetangga, waduh tak ada yang bisa omong Inggris atau Perancis. Bahasa Tiociu kawan saya juga tidak ‘laku’ di Hangzhou. Mau tak mau ya harus pakai bahasa Mandarin dengan rentetan kata dan kalimat patah-patah.

Intinya, loket baru akan dibuka 45 menit lagi, tepat pada pukul 17.00. Jadi, setelah berdiri antri selama 45 menit, lagi-lagi kami harus berdiri lagi untuk 45 menit selanjutnya. Total jenderal 1,5 jam berdiri antri demi sebuah tiket.

Sejenak kami berpikir, kenapa rolling petugas dilakukan tanpa sistem pengganti? Padahal di balik kaca itu, banyak petugas penjaga pintu loket bersliweran sana-sini seakan tak peduli dengan kegelisahan kami.

Memanglah, sistem mereka serba tepat waktu. Setelah sekian lama dihantui ketidakpastian, akhirnya gadis muda penunggu loket itu muncul di balik kaca. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, kami bubar jalan dan menunggu satu teman yang lagi melakukan transaksi di jalur antrian tersebut. “Tiga tiket KA ke Shanghai Hongqiao kelas dua untuk KA non ekspres,” kata satu teman saya dalam bahasa Mandarin patah-patah.

“Mau jam berapa?,” tanya petugas tak ramah ini.

Saat itu, waktu menunjukkan pukul 17.00 petang dan kami ingin bisa mendapatkan tiket KA ke Shanghai  pada jadwal terdekat. Katakanlah rute Hangzhou-Shangai pukul 17.00 sd 18.00.

Ternyata, semua tiket sudah sold out.

_MG_7298 Papan jadwal KA di ruang tunggu Stasiun Hongzhou - Copy

Tidak ada pilihan lain selain diberi karcis untuk perjalanan pulang pada pukul 19.45.

Berarti harus menunggu lagi setidaknya 2 jam di Stasiun Hangzhou.

Musim liburan

Musim panas di China adalah masa-masa liburan panjang untuk anak-anak sekolah. Mereka libur bisa 4o hari. Sialnya, kami pergi ke Hangzhou pada waktu week-end, maka tak bisa ditolak kalau arus pesiar ke kota wisata alam paling terkenal di sekitaran Shanghai ini menjadi sangat membludak.

Di jalanan sepanjang jalur pedestrian West Lake, ribuan orang lalu lalang. Juga di Lingyin Temple banyak orang datang. Belum lagi, antrian panjang menyisir gang sempit untuk bisa mendapatkan bus line 7 yang murah meriah dari Lingyin Temple menuju pusat kota Hangzhou.

Pokoknya harus rela antri dan antri lagi.

IMG_7230 antrian beli tiket bus - Copy

Kalau di Stasiun Hangzhou antrian berjalan tertib dan tidak main serobot, lain halnya di Terminal Bus Lingyin Temple. Orang main serobot saja. Jalur yang mestinya dipakai untuk calon penumpang yang berminat mendapat kursi dipotong oleh alur antrian khusus mereka yang rela berdiri di dalam bus. Tak ayal, barisan calon penumpang duduk justru harus rela berdiri karena jatah seat mereka sudah diduduki orang lain.

Itulah Hangzhou pada musim summer. Tetap menarik, sekalipun ribuan orang datang menyemuti kawasan ini. Hujan deras juga tak membuat ribuan wisatawan ini jadi tak semangat. Sebaliknya, di balik derasnya hujan lebat yang mengguyuri West Lake, ribuan muda-mudi China makin erat berpelukan satu sama lain untuk saling memberi kehangatan tubuh di tengah basahnya hujan._MG_7243 Perempuan naik motor di Hangzhou dengan jas hujan copy

Kami bertiga harus rela duduk berhimpitan di dalam bus penuh sesak. Di luaran tampak indah di tengah hujan lebat, namun di dalam bus ini kami sungguh tak nyaman duduk karena tiba-tiba saja seorang perempuan muda berteriak-teriak tanpa malu sembari memaki-maki.

Ternyata, tasnya dibobol maling dan dia kecopetan barang-barang berharga.

Photo credit: Suasana antrian cari tiket KA di Stasiun Hangzhou dan antri tiket bus di Lingyin Temple (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: