< ![endif]-->

LELAH dan ngantuk adalah awal dari mundurnya konsentrasi. Itu kami alami di Shanghai di hari pertama, selepas mendarat di Bandara Internasional Pudong di luar kota Shanghai.

Kami tiba pagi hari  di Shanghai setelah menempuh perjalanan panjang dengan pesawat terbang non stop kurang lebih 6 jam terbang dari Jakarta menjelang berakhirnya tengah malam di Ibukota Indonesia. Kondisi fisik kami sudah lelah dan psikis juga tertekan karena kemampuan berbahasa Mandarin salah satu anggota perjalanan kami boleh dibilang sangat minim.

Padahal, bahasa Mandarin menjadi hal sangat penting di China dan tak terkecuali di Shanghai.

Tiga kali muter-muter di stasiun sama

Kami bertiga duduk tenang di KA subway line 2 jurusan Pudong menuju pusat kota Shanghai. Jarak Bandara Internasional Pudong dengan pusat kota Shanghai bisa jadi kurang lebih 30 km. Namun dengan sistem transportasi modern subway China di Shanghai, jarak fisik Pudong-Shanghai itu bukan menjadi masalah besar.

Subway route map of Shanghai

Naik KA Subway di Shanghai adalah pengalaman menyenangkan, nyaman, aman, dan tentu saja enak serta cepat anti macet.

Yang tidak mengenakkan adalah karena kami tidak lancar berbahasa Mandarin. Juga tidak tahu kode-kode tertentu yang biasa dipakai oleh sistem KA Subway di Shanghai.

Karena ketidaktahuan inilah, kami menjadi ‘tersesat’ di tengah kerumunan orang banyak di sebuah stasiun subway bawah tanah dalam perjalanan dari Pudong ke pusat kota Shanghai.

Sekali waktu, KA subway itu berhenti di sebuah stasiun bawah tanah. Semua lampu dipadamkan. Namun 30 detik kemudian, lampu-lampu di gerbong subway kembali hidup.

Ada sedetik pengumuman dari operator KA tapi dalam bahasa Mandarin.

Feeling saya bicara: ini pasti sesuatu yang sangat penting. Tapi inti message itu tidak saya ketahui. Lagi-lagi karena kelelahan, rekan perjalanan kami yang sedikit tahu bahasa Mandarin juga sampai tidak ngeh dengan pengumuman penting itu.

subway shanghaiSeorang pemuda yang duduk di sebelah kami sudah memberi sinyal dengan bahasa tubuh agar kami melakukan sesuatu seperti semua orang di gerbong subway ini: segera mungkin turun dari gerbong!

Namun, keraguan hati akhirnya memaksa kami tidak sampai beranjak dari tempat duduk. Takutnya, informasi bahasa tubuh itu salah dan malah menjerumuskan kami. Spontan saya rogoh kantung celana saya: ah…masih aman dompet saya.

Paspor dan dokumen penting lainnya tetap aman karena tersembunyi di balik saku jaket rompi kulit yang masih menempel kuat di badan.

Sinyal tanda ganti haluan

Satu menit kemudian, barulah sinyal bahasa tubuh orang di sebelah itu menjadi jelas bagi kami semua. Ternyata, semua penumpang kereta yang turun itu dalam sejurus menit kemudian sudah ‘hilang’ dan berganti dengan cepat ratusan penumpang lain yang boarding masuk ke gerbong-gerbong subway.

Ya…ampun, ternyata subway itu sekarang mulai beranjak berangkat balik arah menuju Pudong International Airport lagi.

Terlambat sudah, karena semua pintu keluar-masuk gerbong sudah terkunci dengan rapat. Kami hanya bisa pasrah dan memastikan kami bisa keluar di stasiun subway berikutnya.

Mundur satu langkah ke belakang lagi. Ya apa boleh buat.

Begitu kami sukses keluar dari gerbong, segera saya cari petugas peron. Karena bahasa Inggris petugas itu minim dan boleh dibilang malah tidak tahu sama sekali, akhirnya saya memakai bahasa tubuh sembari menunjukkan peta rute subway Shanghai yang saya dapatkan di Bandara Pudong.

“Ya, silakan naik KA lagi arah berlawanan dari yang tadi datang turun,” begitu kurang lebih isi omongan petugas yang simpati ini.

Balik arah lagi

Akhirnya kami boarding lagi di subway dari arah Pudong menuju pusat kota Shanghai.

Tapi lagi-lagi di stasiun sama, lampu berkedip mati dan kemudian sejurus kemudian menyala kembali. Refleks fisik kami terlambat merespon sinyal ini, saking lelahnya kami dalam perjalanan. Akhirnya kami kembali terbawa balik arah menuju Pudong lagi.

Tiba di stasiun sama dan kembali lagi menuju subway arah berlawanan menuju Pusat kota.

Shanghai_Metro_Line_3_AC03_Train

Kali ini, sinyal mati lampu itu kami respon dengan sangat cepat setelah dua kali gagal.

Kami segera turun gerbong dan menemui petugas yang sama. Dengan senyum kecut, dia kasih tahu harus ambil jalur yang lain menuju lantai atas.

Untunglah di lantai atas ada seorang gadis muda molek yang bisa sedikit berbahasa Inggris.

Berkat gadis molek ini, saya dan dua teman perjalanan kami akhirnya bisa masuk gerbong subway yang benar menuju pusat kota Shanghai.

Untuk bisa ke jalur yang benar ini, kami sudah menghabiskan tidak kurang 1,5 jam di jalanan karena kebingungan lantaran miskinnya kami menguasai bahasa Mandarin.

Mestinya jarak tempuh 30 km dari Bandara Internasional Pudong menuju Pusat Kota Shanghai bisa kami lalui kurang lebih 45 menit. Tapi kali ini, kami menyita waktu sampai kurang lebih 2,5 jam karena harus pindah gerbong bolak-balik, turun-naik subway, dan mengangkut koper-koper kami yang berat menuju rute yang benar.

Di negara asing, penguasaan bahasa lokal menjadi sangat penting dalam urusan krusial seperti mengatur rute perjalanan seperti ini. Di Shanghai, China, bahasa Mandarin adalah vital, karena teman saya yang berbahasa Tiociu hanya bisa menangkap 5% dari isi percakapan berbahasa Mandarin.

Photo credit: Peta rute perjalanan KA subway di Shanghai, kereta subway line 3 di Shanghai, suasana naik-turun penumpang di peron subway di Shanghai (ist)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.