10 hari di China: 2 Yuan Bisa Keliling Beijing (13)

< ![endif]-->

SISTEM transportasi massal di Ibukota Beijing di China menerapkan prinsip cepat, efisien, hemat dan tepat waktu serta –ini yang penting—anti macet. Maka dipilihlah sistem MRT jenis subway yang bergerak di jalur bebas hambatan di dalam tanah –seperti jaringan le metro di Paris, Perancis.

Ketika saya pertama  kali menginjakkan kaki di Beijing tahun 1999, rasa-rasanya sistem MRT bawah tanah itu belum ada. Kemana-mana orang pakai sepeda hingga jalanan besar seperti di Salingtun –persis di depan KBRI di Beijing—seperti dihadang kemacetan oleh lalu lalang ribuan sepeda.

Kalau jauh sedikit, orang pilih naik bus kota seperti di Guangzhou. Namun di Guangzhou ada trem listrik. Yang punya duit dan suka suasana yang lebih privasi akan memilih taksi.

13 line subway

Kini suasana serba sepeda di jalanan utama Beijing sudah sangat berubah. Sepeda ontel sudah jarang terlihat. Yang ada adalah mobil-mobil pribadi dan bus-bus kota yang melayani rute pendek di dalam kota.

Yang eksis dan tidak kelihatan di jalan raya adalah MRT bawah tanah yang di Beijing lazim disebut subway. Referensi mengenai rute dan jam operasional subway di Beijing bisa dilihat di sini: http://www.beijingchina.net.cn/transportation/subway.html

Beijing-subway-map

Tersedia setidaknya 13 jaringan rute (line) subway yang melayani penumpang dari dan ke segala arah di Beijing.

Kata seorang bruder Indonesia yang lama tinggal di Beijing, “Jangan naik taksi atau bus kota. Sebaiknya, begitu sampai di Beijing South Railway Station, segera jalan menuju akses subway menuju pusat kota. Murah meriah: cukup 2 RMB (Yuan) saja.”

Sampai pegel keliling hanya 2 Yuan

Sistem bayar tiket subway di Shanghai berbeda dengan di Beijing. Di Shanghai kami bisa membeli tiket terusan sesuai kebutuhan hari yang kita maui: 2 hari, 3 hari, 4 hari atau sepekan lamanya, meski dihitung berdasarkan jumlah jam. Namun, sistem itu tak berlaku di Beijing.

Beijing_Subway_Entrance

“Belinya tiket harian. Itu harganya 2 Yuan saja,” tutur bruder dari Kongregasi Karitas (FC) kelahiran Slawi, Tegal di Jateng yang sudah malang melintang keliling dunia ini.

Benar saja, kami tidak bisa membeli tiket terusan untuk durasi lima hari sesuai masa tinggal kami di Beijing. Melainkan harus beli tiket harian seharga 2 Yuan itu tadi.

Dengan tiket harian seharga 2 Yuan itu, demikian kata bruder FC ini, “kalian sudah bisa berkeliling seluruh Beijing dari pagi-pagi buta pukul 05.00 hingga pukul 22.30 ketika jaringan subway di Beijing selesai beroperasi,” jelas dia.

Syaratnya hanya satu: “Jangan sampai keluar dari peron stasiun subway!”

Loh kok gitu. Iya, karena begitu kita keluar dari peron stasiun maka tiket itu harus kita masukkan dalam sebuah lobang akses pintu keluar dan kemudian tiket itu akan ‘ditelan’ habis oleh mesin itu untuk kemudian diprogram kembali untuk bisa dijual lagi. Sederhananya, pulsa tiket itu sudah habis kemudian direcharge lagi oleh petugas KA untuk kemudian diperdagangkan kembali.

Saya mencoba mencari tahu kenapa diberlakukan sistem tiket harian dengan harga minimal tersebut.

Murah, cepat, anti macet

Menurut bruder FC tadi, pemerintah Ibukota Beijing sangat bertanggungjawab dengan sistem transportasi massal dengan prinsip hemat, tepat waktu, cepat dan anti macet. Maka subway menjadi opsi yang bisa diandalkan.

beijing subway 2

Tapi mengingat jumlah penduduk Ibukota Beijing jauh lebih banyak dibanding –misalnya—Shanghai, maka frekuensi permintaan ribuan komuter di Beijing akan tiket subway akan jauh lebih banyak dibanding penduduk di Shanghai. Kalau diberlakukan sistem tiket terusan berarti persediaan tiket harus banyaaak sekali.

Dengan sistem tiket harian, maka perputaran tiket ini akan berjalan cepat juga. Maka dari itu, berbeda dibanding stasiun-stasiun subway di Shanghai, petugas jaga  di seluruh jaringan subway di Beijing terkesan lebih banyak. Juga aparat kepolisian dan semacam polisi militer.

Antrian menuju dan keluar peron stasiun subway juga lebih banyak. Butuh kesabaran ekstra di Beijing kalau harus antri pada jam-jam sibuk. Belum lagi lorong-lorong menuju subway di Beijing lebih sempit dibanding di Shanghai.

Beijing-Subway-Nov2007-Renewed01aQT

Namun yang pasti, kesana-kemari cukup hanya bayar 2 Yuan saja, asalkan kita tetap berada di dalam stasiun. Jadi kalau mau melihat stasiun-stasiun subway di seluruh Beijing, cukup beli tiket harian seharga 2 Yuan ini maka kita akan melihat seluruh penjuru Ibukota Beijing namun di dalam tanah.

Menjadi murah, karena pemerintah Ibukota Beijing memberi subsidi yang lumayan untuk urusan sistem MRT subway ini.

Photo credit: Suasana pelayanan jasa transportasi massal subway di 13 line di Ibukota Beijing, China (Ist)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: