10 Feb – Kej 2:18-25; Mrk 7:24-30

“Seorang ibu datang dan tersungkur di kakiNya”

(Kej 2:18-25; Mrk 7:24-30)

 

Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.” (Mrk 7:24-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Skolastika, perawan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Perempuan atau ibu pada umumnya lebih saleh dan lembut daripada laki-laki atau bapak, serta lebih rajin berdoa alias ‘datang dan tersungkur di kakiNya’ , lebih beriman. Perempuan atau ibu juga dianugerahi kelebihan dalam hal peka terhadap orang lain, lebih-lebih anaknya yang pernah dikandung di dalam rahimnya selama kurang lebih sembilan bulan serta disusuinya selama masa bayi. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan seorang ibu yang peka terhadap anaknya yang kerasukan setan dan menyadari hanya Tuhanlah yang mampu mengusir atau menyembuhkannya. Dengan kepekaan dan imannya ia datang dan tersungkur di kaki Yesus mohon penyembuhan anaknya. Keimanan dan kasih karunia Tuhan telah menyembuhkan, mengusir setan yang merasuki anak. Maka baiklah seraya mengenangkan St.Skolastika, perawan, hari ini saya mengajak dan mengingatkan secara khusus rekan-rekan perempuan atau para ibu untuk dapat menjadi saksi keimanan yang lembut dan saleh serta kepekaan terhadap penderitaan orang lain, to be woman with/for others. Maaf, kalau agak porno sedikit, bukankah para ibu telah dengan rela dan lemah lembut serta cintakasih telah ‘membuka vagina’ bagi ‘penis’ bapak yang terkasih. Dengan kata lain kami berharap para ibu atau perempuan juga menjadi saksi keterbukaan terhadap yang lain, aneka kemungkinan dan kesempatan untuk berbuat baik atau mengasihi. Perdalam dan teguhkan sikap hati yang ‘tersungkur di kaki Tuhan’  alias dengan rendah hati dan terbuka untuk menerima Penyelenggaraan Ilahi sampai mati.


·   Seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu“(Kej 2:24-25). Dari kutipan ini kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal ‘telanjang, tetapi tidak merasa malu’, tentu saja tidak secara phisik, melainkan lebih-lebih atau terutama secara spiritual. Suami dan isteri saling terbuka secara phisik tidak malu karena dijiwai oleh kasih sejati, maka kami berharap para suami-isteri atau bapak-ibu dapat menjadi teladan dalam keterbukaan dan transparansi dalam cara hidup dan cara bertindak. Pengalaman terbuka satu sama lain dalam keluarga akan menjadi modal atau kekuatan untuk terbuka di tempat tugas atau bekerja, melawan aneka bentuk kebohongan dan kepalsuan. Dari tindakan terbuka satu sama lain antar suami-isteri antara lain menghasilkan ‘buah kasih’, anak maanusia yang menarik, mempesona dan ceria. Maka kami percaya jika dalam hidup bersama dimanapun dan kapanpun kita saling terbuka satu sama lain akan terjadi persaudaraan atau persahabatan sejati antar kita dan kebersamaan kita akan menghasilkan ‘kasih’ yang luar biasa. Hendaknya dijauhkan aneka bentuk sandiwara kehidupan atau formalitas-formalitas yang tiada aritnya bagi keselamatan jiwa manusia. Orang yang telanjang pada umumnya tidak meerangsang untuk berpikiran jahat, sedangkan yang merangsang adalah yang agak telanjang, dengan kata lain keterbukaan tidak akan mengundang kejahatan, sedangkan keragu-raguan menimbulkan kejahatan. Keterbukaan dan ketegasan bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan. Ketegasan yang baik senantiasa dijiwai keterbukaan, tanpa keterbukaan ketegasan berarti kekerasan atau penindasan.

 

Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.”

 (Mzm 128:1-4)

 

Jakarta, 10 Februari 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.